Logo Bloomberg Technoz

Aksi Jual Melanda Surat Utang Kala Rupiah dan IHSG Melemah

Tim Riset Bloomberg Technoz
04 March 2026 12:47

Pengunjung di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ketidakpastian global dan terjadinya eskalasi perang terbuka antara AS-Israel terhadap Iran membuat aset-aset di pasar emerging markets mengalami tekanan jual. Termasuk di pasar aset Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. 

Pada Rabu (4/3/2026), tekanan jual masih melanjutkan trennya di pasar SBN. Kenaikan imbal hasil praktis terjadi di hampir semua tenor pada pukul 10:00 WIB, kecuali tenor 11Y masih mencatat penurunan imbal hasil 16,3 bps di 6,39%. 

Sebaliknya imbal hasil tenor lainnya menghijau, seiring terjadinya aksi jual yang meluas. Seperti tenor 1Y mengalami kenaikan imbal hasil 1,7 bps menjadi 5,22%, imbal hasil tenor 5Y juga naik 4,1 bps menjadi 5,94%, imbal hasil tenor 6Y naik 2,4 bps 6,12%. Begitu juga imbal hasil tenor 10Y yang kerap menjadi acuan naik 2,8 bps menjadi 6,56%. 


Di pasar obligasi, kenaikan imbal hasil berarti harga sedang turun. Artinya, terjadi tekanan jual.

Tekanan di pasar SBN berlangsung saat intensitas pelemahan rupiah di awal pekan ini semakin kuat. Hari ini, rupiah membuka pasar spot dengan pelemahan 0,43% di posisi Rp16.929/US$.