Dari sisi global, inflasi yang terus mendingin membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar. Ekspektasi The Fed yang cenderung akomodatif diperkirakan menekan penguatan dolar AS dan mempersempit diferensial suku bunga. Kondisi ini dinilai lebih ramah bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Likuiditas global juga masih relatif longgar. Yield jangka pendek tertahan, sementara kenaikan yield tenor panjang lebih dipicu oleh risiko fiskal dan geopolitik, bukan karena pengetatan moneter agresif. Situasi tersebut memberi ruang bagi stabilitas pasar obligasi dan aset berisiko.
IHSG Positif hingga Inflasi Lebih Sehat
Sentimen positif tercermin di pasar saham. LaporanBRI Danareksa Sekuritas mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 3,4% secara year to date dan sempat mencetak rekor tertinggi dengan menembus level psikologis 9.000 pada pekan pertama Januari 2026. Secara historis, penguatan awal tahun kerap menjadi sinyal membaiknya minat risiko investor.
Namun, BRI Danareksa Sekuritas mengingatkan bahwa kinerja setahun penuh tetap ditentukan faktor makro dan rotasi sektoral. Pengalaman 2025 menunjukkan penguatan IHSG juga bisa didorong oleh reli terbatas pada saham-saham tertentu.
Dari sisi domestik, inflasi mulai bergerak menuju level yang lebih sehat. Inflasi Desember 2025 tercatat 2,92%, tertinggi sejak 2022, didorong harga emas, volatile food, dan penyesuaian harga yang diatur pemerintah. Inflasi inti yang meningkat moderat mencerminkan pemulihan permintaan domestik.
Kebijakan upah juga bergerak lebih seimbang. Kenaikan Upah Minimum Provinsi 2026 rata-rata 5,82% dinilai menjaga daya beli tanpa membebani dunia usaha. Di sejumlah daerah, seperti Sulawesi Tengah, kenaikan upah mencerminkan dampak positif hilirisasi nikel.
Meski rupiah dan yield masih berfluktuasi, arus dana asing menunjukkan sinyal konstruktif. Investor global kembali mencatatkan net inflow ke pasar obligasi dan saham di awal tahun.
Dengan kombinasi stabilitas makro, normalisasi inflasi, dan dukungan arus modal, awal kuat 2026 menjadi bekal penting bagi pemerintahan Prabowo menjaga optimisme ekonomi nasional.
(red)






























