Di AS, bahkan kenaikan indeks harga konsumen inti (CPI) yang lebih lambat dari perkiraan tidak mampu mempertahankan kenaikan obligasi pemerintah setelah data dirilis. Setelah Gubernur The Fed Jerome Powell dan rekannya memotong suku bunga tiga kali sejak September, pasar uang terus memproyeksi pemotongan berikutnya baru akan terjadi pada pertengahan 2026.
"Antusiasme awal yang dipicu CPI inti lebih rendah dari perkiraan hanya berlangsung singkat," kata Jose Torres dari Interactive Brokers. "Pembalikan ini dipengaruhi, sebagian, oleh kegagalan laporan tersebut untuk mempercepat pemotongan suku bunga berikutnya dari Juni ke April karena pengamat obligasi memperkirakan pemotongan Powell pada Desember akan menjadi yang terakhir selama dia menjabat."
Setelah JPMorgan pada Selasa, laporan keuangan dari bank-bank raksasa pesaing seperti Bank of America Corp, Wells Fargo & Co, Citigroup Inc, Goldman Sachs Group Inc, dan Morgan Stanley dijadwalkan dirilis pada Rabu dan Kamis. Grup ini diperkirakan akan mencatatkan laba tahunan tertinggi kedua sepanjang sejarah, didorong oleh perubahan kebijakan Trump.
Pelaku pasar juga waspada terhadap potensi putusan Mahkamah Agung AS pada Rabu mengenai tarif yang diberlakukan Gedung Putih tahun ini. Putusan yang merugikan akan memicu reaksi negatif pasar, meski pemerintah memiliki dasar hukum alternatif untuk sebagian besar tarif tersebut.
Indeks Harga Konsumen (CPI) inti Desember, tidak termasuk kategori makanan dan energi yang sering fluktuatif, meningkat 0,2% dari November. Secara tahunan, CPI inti naik 2,6%, menyamai level terendah dalam empat tahun.
Angka ini mungkin merupakan pertanda yang lebih meyakinkan bahwa inflasi sedang menuju penurunan. Pasalnya, sejumlah catatan dalam laporan November berkontribusi pada penurunan signifikan CPI inti tahunan.
"Mengingat keunikan laporan dua bulanan November, mengejutkan bahwa tidak ada penyesuaian bulanan yang lebih besar," kata Stephen Kates dari Bankrate. "Konsumen dapat bernapas lega karena kita tidak kembali ke tingkat inflasi tahunan 3%. Meski tidak menunjukkan kemajuan tambahan dalam inflasi, angka ini juga tidak menunjukkan kemunduran."
David Russell dari TradeStation menilai bahwa meski ini merupakan kabar baik bagi investor yang khawatir inflasi akan kembali meningkat pada Desember, data terbaru mungkin tidak akan banyak memengaruhi kebijakan The Fed mengingat adanya perubahan kepemimpinan yang akan datang.
Presiden Trump mengkritik Gubernur The Fed Powell "tidak kompeten" atau "korup" setelah penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap renovasi kantor pusat bank sentral memicu reaksi keras dari seluruh Washington.
"Dia menghabiskan anggaran miliaran dolar lebih dari seharusnya, jadi, dia tidak kompeten atau korup," kata Trump kepada wartawan saat meninggalkan Gedung Putih untuk pidato ekonomi di Detroit, Selasa. "Saya tidak tahu dia itu apa, tetapi dia jelas tidak melakukan tugasnya dengan baik."
Menurut Jason Pride dari Glenmede, tidak ada dalam laporan CPI terbaru yang menunjukkan bahwa The Fed perlu segera bertindak terkait suku bunga. Dia mengatakan pembuat kebijakan mungkin akan tetap mempertahankan suku bunga akhir bulan ini, memberi mereka waktu untuk menganalisis data yang masuk dan membiarkan distorsi terkait penutupan pemerintahan mereda.
Tahun 2026 ke depan, lanjut Pride, satu atau dua pemotongan suku bunga tetap menjadi skenario dasar yang masuk akal, bergantung pada bagaimana keseimbangan antara kondisi pasar tenaga kerja dan inflasi berkembang.
Apa kata para ahli strategi Bloomberg...
"Meskipun jalur kebijakan moneter secara umum masih mengarah pada dua kali pemangkasan suku bunga sebesar 0,25% tahun ini, peningkatan marginal dalam prediksi suku bunga menunjukkan pasar bersedia mengubah pandangan mereka ketika data menunjukkan hal tersebut. Pertanyaannya hanyalah apakah rilis data ekonomi di masa mendatang cukup konsisten untuk mendukung pergeseran ekspektasi yang lebih dovish terhadap biaya pinjaman."
—Kristine Aquino, Managing Editor, Markets Live.
(bbn)




























