Logo Bloomberg Technoz

Dengan begitu, Bahlil mengklaim produksi bensin Tanah Air akan mendekati level 20 juta kl dari sebelumnya sekitar 14 juta kl.

Apabila dibandingkan dengan konsumsi bensin dalam negeri yakni sekitar 40 juta kl, maka sisa impor bensin Indonesia masih terpaut sekitar 20 juta kl.

“Sementara untuk solar, tahun ini alhamdulillah atas perintah Bapak Presiden, maka mulai yang sekarang kita bicara ini, Pak. Tidak ada lagi impor solar untuk insyallah ke depan. Karena kebutuhan solar kita totalnya 38 juta, sekarang B40 dan B60 [B50],” ujar dia.

Dia mengklaim RDMP Balikpapan dapat menambah produksi solar dalam negeri hampir 5 juta kl, sehingga nantinya Indonesia diklaim akan mengalami surplus solar cetane number (CN) 48 sebesar 1,4 juta. Hal ini, disebut membuat RI resmi menyetop impor solar mulai awal tahun ini.

Sementara itu, untuk solar berkualitas tinggi atau CN51, Bahlil mengatakan saat ini Indonesia masih mengimpor sebesar 600.000 kl per tahun. Akan tetapi, dia menyatakan akan turut menyetop impor komoditas migas tersebut pada semester II-2026.

“Nanti pada semester ke-2 Pertamina saya minta untuk membangun agar tidak kita impor,” tegas Bahlil.

Sekadar informasi, proyek revitalisasi Kilang Balikpapan itu bakal mengerek kapasitas pengolahan saat ini di level 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari.

Selain itu, RDMP Balikpapan juga meningkatkan kapasitas produksi LPG ke level 336.000 ton per tahun.

Adapun, Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex menjadi elemen kunci dalam Proyek RDMP Balikpapan.

Sebagai unit pengolahan utama, RFCC Complex dirancang untuk mengoptimalkan pengolahan residu minyak menjadi produk bahan bakar dan petrokimia bernilai tinggi.

Kehadiran fasilitas ini membuat Kilang Balikpapan mampu memproduksi bahan bakar berkualitas tinggi setara standar Euro 5, yang lebih bersih dan rendah emisi.

Selain itu, Kilang Balikpapan juga dapat memproduksi produk petrokimia propylene dan sulfur.

Sekadar catatan, Bahlil Lahadalia bakal mengerek kapasitas produksi avtur di dalam negeri. Bahlil berencana mengonversi perkiraan surplus Solar tahun depan menjadi bahan bakar industri penerbangan tersebut. Menurut dia, Indonesia bakal surplus Solar sekitar 4 juta ton mulai paruh kedua 2026.

Komitmen itu disampaikan Bahlil di hadapan Presiden Prabowo Subianto saat sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).

“Jumlah Solar yang surplus kurang lebih sekitar 4 juta ton itu kita akan konversi untuk membuat produksi avtur,” kata Bahlil.

(azr/wdh)

No more pages