Logo Bloomberg Technoz

Rencana RI Impor Migas AS Rawan Ditunggangi Aksi Spekulan Minyak

Azura Yumna Ramadani Purnama
26 February 2026 10:40

Ilustrasi Penyimpanan Minyak (Sumber: Bloomberg)
Ilustrasi Penyimpanan Minyak (Sumber: Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Praktik spekulasi trader dalam impor minyak dan gas bumi (migas) dinilai makin rawan seiring dengan rencana Indonesia mengimpor komoditas energi dalam jumlah besar dari Amerika Serikat (AS), sebagai imbas dari kesepakatan dagang terkait dengan kebijakan tarif resiprokal Presiden Donald Trump.

Pakar industri migas dari Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan aksi spekulan tersebut bisa dilakukan baik melalui skema impor langsung dari AS maupun melalui aset-aset migas luar negeri perusahaan energi asal AS.

Apalagi, kata Moshe, nilai pembelian gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG), minyak mentah atau crude oil, dan bensin dari AS sudah ditentukan sebesar US$15 miliar atau sekitar Rp253,4 triliun, sedangkan volume dan harga komoditas yang ditawarkan belum disepakati sejak awal.


Moshe juga mewaspadai para spekulan dapat memanfaatkan fluktuasi harga komoditas global untuk menaikkan harga jual ke Indonesia.

“Iya, karena kita sudah dikunci, terus gimana? Terus ya sudah dinaikin aja, enggak ada deal harga juga. Ini cuma nilai estimasi aja, harga itu kan naik-turun kalau migas. Kalau misalkan harga turun, kita dikunci dengan harga tinggi, rugi kan? Kalau harga tinggi, kita dikasih lebih tinggi lagi. Lebih rugi lagi,” kata Moshe ketika dihubungi, Kamis (26/2/2026).

Produksi minyak AS./dok. Bloomberg