Logo Bloomberg Technoz

Subsidi Energi Rawan Bengkak Gegara RI Sepakati Impor Migas AS

Azura Yumna Ramadani Purnama
25 February 2026 12:00

Sebuah rig pengeboran minyak Exxon Mobil Corp. di dekat Stanton, Texas. (Fotografer: Justin Hamel/Bloomberg)
Sebuah rig pengeboran minyak Exxon Mobil Corp. di dekat Stanton, Texas. (Fotografer: Justin Hamel/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Center of Reform on Economics (Core) memperingatkan adanya risiko pembengkakan subsidi energi gegara impor komoditas minyak dan gas (migas) dari Amerika Serikat (AS), sebab biaya pengadaan komoditas energi dari AS lebih mahal dari impor yang dilakukan saat ini.

Ekonom energi Core Muhammad Ishak Razak menyatakan jarak antara Teluk Meksiko—yakni tempat pengangkutan komoditas energi AS ke Indonesia — bisa lebih jauh 3—4 kali dibandingkan dengan impor migas yang biasa dilakukan RI dari Timur Tengah.

Ishak menilai hal tersebut membuat biaya transportasi yang dikeluarkan lebih mahal, sehingga harga komoditas energi yang diterima RI pun akan lebih mahal.


Selain itu, jika komitmen impor komoditas migas senilai US$15 miliar tersebut dilakukan dalam jangka panjang, terdapat potensi fluktuasi harga gegara perubahan nilai tukar terhadap dolar AS.

“Jika landed cost energi akhirnya lebih tinggi, pemerintah menghadapi dilema yaitu menanggung selisihnya melalui subsidi yang membebani APBN, atau meneruskannya ke konsumen yang berisiko memicu inflasi akibat kenaikan harga BBM domestik,” kata Ishak ketika dihubungi, Rabu (25/2/2026).

Produksi minyak AS dari Teluk Meksiko./dok. Bloomberg