Logo Bloomberg Technoz

Akan tetapi, dia memprediksi kenaikan tersebut akan bersifat terbatas dan tidak untuk jangka panjang.

“Untuk jangka panjang dan khususnya kepentingan China maupun India dalam menjaga harga energi bagi kepentingan industri, mereka terus berupaya meningkatkan produksi.  Dengan kondisi ini, apalagi China dan India sebagai pasar ekspor terbesar batu bara,” tegas dia.

Konsumsi Batu Bara (Sumber: Bank Dunia)

Adapun, Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) turut memiliki pandangan yang serupa.  Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menilai rencana pemangkasan produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton belum tentu mengkerek harga emas hitam tersebut.

Dia mengungkapkan pasar batu bara bersifat global dan sangat responsif. Untuk itu, jika terjadi penyesuaian produksi dari salah satu negara produsen, pasar bakal bereaksi mencari alternatif pasokan.

Kondisi tersebut, kata Gita, berpotensi membuat negara-negara konsumen batu bara utama yang memiliki cadangan dan kapasitas produksi domestik seperti China dan India meningkatkan produksi dalam negerinya.

“Negara-negara konsumen utama yang memiliki cadangan dan kapasitas produksi domestik, seperti China dan India, dapat meningkatkan produksi dalam negerinya. Selain itu, pembeli juga memiliki opsi pasokan dari negara produsen lain,” kata Gita.

“Karena itu, pengaruh terhadap harga tidak bersifat linier dan tidak bisa dilihat hanya dari sisi Indonesia,” tegas Gita.

Sekadar informasi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan target produksi batu bara dalam RKAB 2026 akan dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton, lebih rendah dari target tahun lalu sebanyak 735 juta ton.

Bahlil menegaskan belum menetapkan angka target produksi batu bara pada tahun ini, tetapi dia menyatakan dalam RKAB 2026 target produksi akan berada di sekitar 600 juta ton.

“Urusan RKAB, Pak Dirjen Minerba lagi menghitung. [Hal] yang jelas di sekitar 600 juta. Kurang lebih. Bisa kurang, bisa lebih dikit,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers Kinerja Kementerian ESDM, Kamis (8/1/2026).

Bahlil berharap pemangkasan produksi yang akan dilakukan Indonesia dapat mengerek harga batu bara kedepannya.

Sekadar catatan, APBI mengungkapkan terkontraksinya volume ekspor batu bara Indonesia sepanjang Januari—November 2025 dipengaruhi melemahnya permintaan di negara tujuan utama Indonesia dan ketidakpastian kebijakan.

Menurut APBI, peningkatan produksi di negara tujuan ekspor utama, seperti China dan India, menjadi faktor utama turunnya kinerja ekspor batu bara Tanah Air.

Adapun, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor batu bara secara volume terkoreksi 3,9% ke level 354,64 juta ton sampai periode yang berakhir November 2025, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 369,31 juta ton.

Sementara itu, berdasarkan catatan Kementerian ESDM, produksi batu bara sepanjang 2025 tercatat sebesar 790 juta ton atau anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sebesar 836 juta ton.

Sebagian besar produksi itu disalurkan untuk pasar ekspor, sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi.

(azr/wdh)

No more pages