Logo Bloomberg Technoz

Audrey memproyeksikan harga nikel dunia berada di kisaran US$16.000—US$17.000 per ton dalam jangka pendek hingga menengah, jika pengetatan suplai global tersebut terjadi tanpa disrupsi yang signifikan.

Sementara itu, jika ekspektasi pengetatan pasokan gegara Indonesia memangkas produksi bijih tidak terealisasi, Audrey memprediksi harga nikel dunia akan kembali terkoreksi dari level saat ini.

“Dari sisi strategi investasi, kami lebih menyoroti emiten nikel dengan eksposur kuat di segmen upstream, seperti INCO dan ANTM, yang relatif lebih resilien terhadap fluktuasi harga dan berpotensi diuntungkan apabila harga nikel bertahan di level tersebut,” papar Audrey.

Proyeksi Optimistis

Terpisah, analis komoditas dan Founder Traderindo Wahyu Laksono memandang belum terbitnya RKAB 2026 hingga mengharuskan perusahaan nikel di Indonesia beroperasi dengan kapasitas maksimal 25% hingga Maret berpotensi semakin mengkerek harga nikel dunia.

Wahyu memprediksi lebih optimistis. Dia meramal jika permasalahan RKAB 2026 tidak teratasi dalam dua pekan mendatang, harga nikel dunia berpotensi bergerak ke level US$18.000/ton.

“Harga nikel saat ini sedang berada dalam fase ‘Supply-Driven Rally’. Level US$17.000/ton adalah ambang psikologis penting,” kata Wahyu.

Kemudian, lanjut Wahyu, jika RKAB akhirnya terbit dengan kuota produksi yang dipangkas menjadi 250 juta ton, harga diprediksi stabil di level tersebut namun cenderung melandai karena stok LME masih cukup tinggi.

“Jika masalah RKAB ini berlarut hingga akhir Januari, target realistis berikutnya adalah US17.500 hingga US18.000 [per ton]. Namun, begitu RKAB diterbitkan massal, harga biasanya akan mengalami koreksi teknis atau turun sedikit karena kepastian pasokan kembali muncul,” ungkap dia.

Kementerian ESDM mengakui belum menerbitkan persetujuan RKAB 2026 pada awal Januari, seiring dengan wacana pemerintah memangkas produksi sejumlah komoditas pertambangan demi menjaga harga tahun ini.

Adapun, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) sempat menyatakan Kementerian ESDM berencana memangkas produksi bijih nikel menjadi 250 juta ton pada tahun ini, dari tahun sebelumnya sebesar 379 juta ton.

Enggak, sampai saat ini untuk yang RKAB tahunan 2026 belum memang. Ada beberapa penyesuaian karena terkait dengan produksi. Itu saja. Akan tetapi, sedikit lagi sudah [tuntas pembahasannya],” kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin (5/1/2026).

Untuk itu, kata Tri, Kementerian ESDM memberikan relaksasi bagi perusahaan tambang agar tetap bisa menjalankan operasional tambang selama 3 bulan ke depan; dengan ketentuan produksi dibatasi sebesar 25% dari RKAB 2026 versi 3 tahunan.

Tri mengklaim besaran tersebut ditetapkan secara proporsional sebab kuota sebesar 25% merepresentasikan produksi yang dilakukan selama tiga bulan

Sebagai catatan, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) bahkan harus menyetop operasional tambangnya, meskipun terdapat relaksasi RKAB 2026 tersebut.

Alasannya, RKAB eksisting yang dimiliki Vale berakhir pada tahun ini, sedangkan syarat operasional dengan memanfaatkan masa transisi RKAB adalah harus memiliki RKAB 2026 versi tiga tahunan.

“Vale kemarin karena perpanjangan, jadi dia 2026 enggak ada atau RKAB-nya kosong,” kata Tri.

Nikel dilego di harga US$17.703/ton pada di London Metal Exchange (LME) per 9:30 WIB, menguat 3,19% dari penutupan Jumat.

(azr/wdh)

No more pages