Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Lesu Lagi, Belum Pernah Hijau di Awal 2026

Tim Riset Bloomberg Technoz
09 January 2026 16:12

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Menutup perdagangan hari keenam tahun ini, rupiah masih belum menunjukkan penguatan.

Pada Jumat (9/1/2026), rupiah ditutup melemah 0,07% di Rp16.805/US$ di perdagangan spot. Sebenarnya posisi ini sudah lebih baik daripada pembukaan tadi pagi di Rp16.827/US$, tetapi lebih lemah dari posisi penutupan kemarin yakni Rp16.793/US$. 

Indeks dolar AS naik 0,13% dan menyentuh 99.034, posisi terkuat dalam empat minggu terakhir. Ini membuat mata uang di Asia hampir semua berada di zona merah. 

Nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat sore (9/1/2026). (Sumber: Bloomberg)

Yen Jepang mengalami pelemahan paling dalam sebesar 0,45%. Disusul won Korea Selatan 0,41%, ringgit Malaysia 0,23%, rupee India 0,19%, dolar Singapura 0,16%, peso Filipina tergerus 0,12%, dolar Taiwan 0,08%, rupiah 0,07% dan dolar Hong Kong 0,04%.

Penguatan dolar AS ini tak hanya memengaruhi pasar Asia, tapi juga negara lainnya yang termasuk kuat secara fundamental ekonomi seperti negara G-10, terlihat pada grafik di bawah ini. 

Nilai tukar mata uang negara G-10 terhadap dolar AS, Jumat sore (9/1/2026). Bloomberg