Logo Bloomberg Technoz

Menguatnya dolar AS disokong oleh sentimen laporan pekerjaan AS yang akan rilis Jumat sore waktu setempat. Jika data nonfarm payrolls melampaui ekspektasi seperti yang diprediksi oleh para ekonom Bloomberg, dolar AS akan terus melanjutkan penguatannya.

Data nonfarm payrolls kerap menjadi indikator utama kesehatan pasar tenaga kerja AS. Data ini menunjukkan berapa banyak lapangan kerja baru yang tercipta di luar sektor pertanian dalam satu bulan.

Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia, data ini menjadi perhatian pelaku pasar lantaran kondisi pasar Negari Adidaya akan punya dampak besar ke pasar keuangan global. 

Apabila data nonfarm payrolls ini lebih kuat dari prediksi para ekonom, pasar akan menilai bahwa perekonomian AS masih solid, dan dapat mendorong ekspektasi suku bunga AS akan bertahan di level tinggi, atau mungkin naik. 

Faktor Domestik

Beban rupiah tak hanya disebabkan oleh faktor eksternal, tapi juga kondisi perekonomian domestik. Data-data ekonomi yang rilis pada pekan pertama tahun 2026, turut menekan pergerakan rupiah di pasar spot.

Defisit fiskal dalam APBN 2025 sebesar 2,92%, yang mendekati batas atas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menambah kekhawatiran investor terhadap ruang pembiayaan pemerintah di tengah volatilitas global. 

Defisit ini juga menandakan kondisi Indonesia yang semakin bergantung pada pembiayaan eksternal dalam bentuk surat utang. Dengan kebutuhan penerbitan surat utang yang lebih besar, ruang likuiditas berpotensi menyempit sehingga meningkatkan premi risiko. 

Data ekonomi dengan capaian moderasi pertumbuhan dan melambatkan kinerja ekspor juga membuat persepsi dukungan fundamental terhadap rupiah tak cukup solid. Terlebih dalam paparan APBN kemarin, terjadi shortfall penerimaan.

Realisasi pendapatan negara sebesar 96,19% atau Rp2.756,30 triliun, terjadi penyusutan penerimaan pajak sebesar 0,77% secara tahunan. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP ikut turun 8,6% menjadi Rp534,10 triliun. 

Defisit fiskal terhadap Produk Domestik Bruto mencapai 2,92% dalam APBN 2026. (Sumber: Bloomberg).

Pasar keuangan merespons kondisi domestik dengan sikap defensif dan tercermin dalam harga rupiah di pasar offshore tadi pagi, yang mencerminkan adanya peningkatan premi risiko Indonesia di mata investor global.

Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menjaga kredibilitas kebijakan fiskal serta konsistensi Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dalam menstabilkan nilai tukar. Tanpa sinyal penguatan yang jelas dari sisi fiskal ditambah volatilitas eksternal yang terus berlanjut, rupiah berpotensi tetap bergerak dalam tekanan. 

(riset/aji)

No more pages