Menurut Purbaya, hal ini cukup menggembirakan mengingat kinerja manufaktur yang ekspansif umumnya sejalan dengan perbaikan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Keempat, sentimen positif terhadap perekonomian Indonesia tercermin dari tren penurunan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun. Ia menyebut, yield SBN 10 tahun berada di level 6,01 persen pada akhir 2025, turun signifikan dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar 7,02 persen.
Sebagai catatan, yield SBN mencerminkan persepsi risiko terhadap instrumen pembiayaan negara. Jika yield semakin turun, maka itu menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi domestik semakin meningkat.
“Ini cukup menggembirakan. Artinya, surat utang kita semakin dipercaya oleh pasar, sehingga yield-nya bisa turun,” imbuhnya.
Indikator terakhir, lanjut Purbaya, terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus menguat sejak awal kuartal IV 2025. IHSG bahkan menutup akhir tahun di level 8.646,9 poin, atau naik 22,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Jadi, dari sisi sentimen investor, baik domestik maupun asing, kepercayaan terhadap perekonomian kita sudah kembali. Itu karena mereka melihat pemerintah bekerja serius dan dampaknya ke perekonomian mulai terlihat,” tutup Purbaya.
(red)




























