Logo Bloomberg Technoz

Indonesia Dinilai Tangguh Redam Gejolak Timur Tengah

Redaksi
02 March 2026 12:46

(Bloomberg Technoz/Diolah)
(Bloomberg Technoz/Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indonesia memasuki fase baru ketegangan geopolitik global saat konflik di Timur Tengah kembali memanas. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia dan tekanan terhadap harga energi.

Harga minyak Brent diperkirakan berpotensi bertahan di kisaran US$83 hingga US$87 per barel. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia, terutama karena berpotensi mendorong inflasi domestik.

Inflasi tahunan Indonesia pada Januari 2026 tercatat 3,55%, mendekati batas atas target Bank Indonesia. Kenaikan harga energi global menjadi salah satu risiko utama yang dapat mempersempit ruang stabilitas harga dalam negeri.

Meski demikian, mekanisme harga bahan bakar yang dikelola pemerintah dinilai memberi fleksibilitas dalam mengendalikan transmisi kenaikan harga global ke pasar domestik. Pemerintah juga menyiapkan alokasi subsidi energi sekitar Rp210 triliun tahun ini untuk menjaga daya beli masyarakat.

Langkah tersebut memang berpotensi menambah tekanan fiskal apabila harga minyak bertahan tinggi dalam jangka panjang. Namun fondasi kebijakan dinilai cukup solid untuk meredam risiko tersebut.

“Indonesia tidak memasuki fase ini sebagai ekonomi yang rapuh. Negara ini memiliki kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, serta kerangka nilai tukar yang mampu menyerap guncangan tanpa gangguan sistemik,” ujar Ekonom Global Juwai IQI, Shan Saeed.

Shan Saeed, Chief Economist Juwai IQI Global (Dok. Ist)

Fondasi Fiskal dan Stabilitas Eksternal

Disiplin fiskal tetap menjadi penopang utama stabilitas. Defisit anggaran dijaga di sekitar batas 3% terhadap produk domestik bruto, sementara rasio utang pemerintah dipertahankan di bawah 40%.

Di sektor eksternal, posisi cadangan devisa mencapai US$154,6 miliar. Angka ini setara lebih dari enam bulan impor, memberi bantalan yang cukup terhadap potensi gejolak arus modal global.

Surplus perdagangan sekitar US$2,7 miliar juga menopang pasokan devisa. Stabilitas nilai tukar rupiah kini ditopang pendekatan kebijakan yang lebih terukur dan proaktif.

Dengan suku bunga acuan di level 4,75%, Bank Indonesia menjaga stabilisasi nilai tukar dan manajemen likuiditas secara aktif. Rupiah dinilai bergerak dalam koridor yang lebih terkelola dibandingkan periode krisis sebelumnya.

Kepemilikan asing pada surat utang negara yang kini berada di kisaran 13% hingga 14% turut mengurangi sensitivitas terhadap potensi arus keluar modal. Basis investor domestik yang semakin kuat menjadi penyangga tambahan.

“Bahkan jika harga minyak tetap tinggi, Indonesia akan menghadapi volatilitas, bukan krisis. Arsitektur makro dirancang untuk menyerap tekanan secara terukur,” kata Shan Saeed.

Di tengah tekanan eksternal, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih diproyeksikan berada di rentang 5% hingga 6%. Konsumsi domestik yang kuat, pembangunan infrastruktur, serta hilirisasi industri seperti nikel dan ekosistem kendaraan listrik menjadi motor utama ekspansi.

Dengan kombinasi stabilitas fiskal, kebijakan moneter yang kredibel, dan momentum investasi struktural, Indonesia dinilai tetap menarik dalam alokasi portofolio emerging markets global.

“Indonesia tetap berada dalam posisi kuat dalam kerangka alokasi emerging markets global, didukung oleh stabilitas, kredibilitas, dan visibilitas pertumbuhan,” ujar Shan Saeed.

Di tengah lanskap global yang sarat ketidakpastian, Indonesia dinilai mampu mengubah potensi tekanan eksternal menjadi tantangan yang terkelola, bukan krisis yang mengganggu fondasi ekonomi.