Logo Bloomberg Technoz

Ekonomi RI Tahan Guncangan Global, Likuiditas Tetap Kuat

Redaksi
02 March 2026 12:41

Ekonomi RI Tumbuh 5,12%, Lampaui Ekspektasi, Ungguli Malaysia, Singapura (Diolah dari Berbagai Sumber)
Ekonomi RI Tumbuh 5,12%, Lampaui Ekspektasi, Ungguli Malaysia, Singapura (Diolah dari Berbagai Sumber)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ketegangan geopolitik global kembali memanas dan memicu kekhawatiran pasar. Namun, ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan yang kuat menghadapi dinamika tersebut.

Laporan terbaru dari BRI Danareksa Sekuritas atau BRIDS menyebutkan stabilitas domestik tetap terjaga berkat dukungan likuiditas yang memadai, disiplin fiskal, serta kebijakan moneter yang adaptif.

Eskalasi konflik global, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, berpotensi memicu volatilitas pasar dan gangguan rantai pasok energi dunia.

“Konflik AS–Iran dapat mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi aliran minyak global,” tulis laporan BRIDS, 2 Maret 2026.

Meski demikian, BRIDS menilai dampaknya terhadap Indonesia masih dapat dikelola karena transmisi risiko terutama terjadi melalui kanal perdagangan dan sektor keuangan yang sudah teridentifikasi.

Likuiditas Longgar Jadi Tameng

Salah satu penopang utama stabilitas ekonomi adalah kebijakan pemerintah memperpanjang penempatan dana SAL sebesar Rp200 triliun hingga September 2026. Langkah ini menjaga likuiditas perbankan tetap longgar di tengah ketidakpastian global.

Kondisi likuiditas yang terjaga membantu menekan biaya dana serta menjaga stabilitas sektor keuangan. Pertumbuhan jumlah uang beredar dan kredit juga menunjukkan tren positif, mencerminkan aktivitas ekonomi domestik yang tetap berjalan.

BRIDS menilai risiko global memang masih ada, terutama dari potensi kenaikan harga energi. Tekanan tersebut dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga global.

“Harga energi yang lebih tinggi masih dapat menciptakan tekanan reflasi dan menunda waktu penurunan suku bunga, sehingga kekhawatiran stagflasi kembali muncul,” tulis laporan Macro Strategy tersebut lebih jauh.

Namun, dengan suku bunga global yang sudah menurun dibandingkan puncaknya pada 2023, risiko perlambatan ekonomi global dinilai lebih terbatas dibanding periode pengetatan moneter sebelumnya.

Fundamental Fiskal Tetap Terjaga

Dari sisi fiskal, Indonesia masih berada dalam koridor aman. Defisit anggaran tercatat di bawah batas 3 persen terhadap produk domestik bruto, menunjukkan konsistensi pengelolaan fiskal.

Rasio utang pemerintah juga relatif rendah dibandingkan negara dengan peringkat setara. Kondisi ini memberi ruang kebijakan bagi pemerintah untuk merespons dinamika global jika diperlukan.

Cadangan devisa yang stabil serta instrumen kebijakan Bank Indonesia turut menjadi bantalan tambahan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Di pasar keuangan, arus keluar dana asing sempat terjadi seiring meningkatnya risiko global. Namun, likuiditas domestik dinilai mampu mengimbangi tekanan tersebut.

“Periode meningkatnya risiko global cenderung menekan pasar negara berkembang, memicu peralihan ke aset aman dan menyebabkan arus keluar asing,” BRIDS.

Dalam konteks Indonesia, tekanan tersebut masih dapat dikelola tanpa memicu disrupsi besar. Kombinasi likuiditas yang kuat, fiskal yang disiplin, serta kebijakan moneter yang responsif menjadi fondasi utama ketahanan ekonomi nasional.