Logo Bloomberg Technoz

Rupiah dan Mata Uang Asia Tertekan Penguatan Dolar

Tim Riset Bloomberg Technoz
08 January 2026 10:18

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah dalam perdagangan spot masih melanjutkan tren pelemahan. Hari ini (8/1/2026), rupiah dibuka turun 0,10% ke level Rp16.792/US$. 

Pelemahan rupiah sejalan dengan penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melanjutkan tren penguatan di posisi 98.684, naik 0,11% dalam perdagangan kemarin. 

Penguatan dolar juga ikut membuat mata uang di pasar Asia berada dalam zona merah. Baht Thailand yang turun paling dalam 0,26%, disusul dolar Taiwan 0,23%, dolar SIngapura 0,12%, ringgit Malaysia 0,11%, won Korea Selatan 0,10%, yen Jepang 0,08%, dan renminbi China 0,04%. 

Nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar AS, Kamis pagi (8/1/2026)

Sementara, peso Filipina justru menguat 0,27% dan offshore renminbi China menguat tipis 0,01%. 

Tekanan terhadap mata uang Asia mencerminkan kembali kuatnya preferensi investor global terhadap dolar AS, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Eskalasi ketegangan global, termasuk konflik yang melibatkan AS dan Venezuela, memperbesar premi risiko dan mendorong arus modal keluar dari aset berisiko di negara berkembang.