Logo Bloomberg Technoz

Awali 2026, Rupiah Belum Pernah Menguat

Tim Riset Bloomberg Technoz
07 January 2026 16:09

Karyawan memberikan uang rupiah dan dolar AS kepada nasabah di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan memberikan uang rupiah dan dolar AS kepada nasabah di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, JakartaNilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan spot Rabu (6/1/2026), memperpanjang tren tekanan sejak awal tahun. 

Rupiah ditutup terdepresiasi 0,15% dan melanjutkan tren penurunan empat hari beruntun dan dibanderol di posisi Rp16.775/US$. Memasuki pekan pertama 2026, rupiah belum sehari pun mencatatkan penguatan.

Berbeda dengan pergerakan beberapa mata uang di pasar Asia yang cenderung bervariasi. Bahkan, rupee India yang beberapa hari terakhir melemah bersama rupiah sudah berbalik dan menunjukkan penguatannya pada penutupan sore ini sebanyak 0,29%. Yen Jepang menyusul dengan penguatan 0,07%, won Korea Selatan 0,02%. 


Dari zona merah, hampir semua mata uang Asia kompak di sana. Peso Filipina menjadi yang paling dalam dan tergerus 0,28%. Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,25%, baht Thailand 0,14%, renminbi China 0,11%, terakhir dolar Singapura 0,1%. 

Perbedaan kinerja ini mencerminkan sensitivitas rupiah yang masih tinggi terhadap sentimen eksternal. Dolar AS yang kembali menguat memang menjadi faktor dominan, seiring sikap investor global yang lebih defensif lantaran ketidakpastian geopolitik.