Logo Bloomberg Technoz

Atas dasar itu, Arif memprediksi impor bijih nikel akan naik menjadi 50 juta ton tahun ini. Dari besaran itu, 30 juta ton di antaranya berasal dari Filipina.

Penyadapan bijih nikel di tungku matte di smelter nikel yang dioperasikan oleh PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan./Bloomberg-Dimas Ardian

“FINI memprediksi bahwa impor bijih nikel sebagai mekanisme penyeimbangan utama. Diperkirakan impor berpotensi meningkat hingga ~50 juta ton basah (wmt); di mana ≥30 juta ton basah [wmt] berasal dari Filipina, sisanya dari tempat lain,” kata Arif ketika dihubungi, Kamis (8/1/2026).

Peningkatan kebutuhan bijih tersebut, kata Arif, dipengaruhi ekspansi dan proyek smelter baru di Indonesia terutama dari proyek-proyek hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching (HPAL) yang mulai beroperasi.

Arif juga menilai kekurangan pasokan bijih nikel dalam negeri tersebut tak dapat ditutupi secara keseluruhan dari impor.

“Diperkirakan masih ada kekurangan sekitar 50 juta ton basah,” ungkap dia.

Realisasi 2025

Di sisi lain, sepanjang 2025 impor bijih nikel dari Filipina diprediksi menanjak ke level 15 juta ton, lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar 12 juta ton.

Arif menjelaskan 80% impor bijih nikel masuk ke Indonesia melalui pelabuhan di Maluku Utara. Kemudian, sisanya impor nikel masuk ke Indonesia melalui pelabuhan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan lokasi lainnya.

Menurut Arif, tingginya impor bijih untuk wilayah Maluku Utara dipengaruhi sumber pasokan bijih di Indonesia yang 70% diantaranya berada di Pulau Sulawesi.

“Jika mengacu pada data kebutuhan dan pasokan bijih nikel 2025 antara wilayah-wilayah Sulawesi dan Maluku Utara, Sulawesi memegang 70% volume yang diizinkan berdasarkan RKAB, sementara fasilitas-fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel yang berada di wilayah Maluku Utara harus membeli dari wilayah Sulawesi dan mengimpor bijih nikel dari Filipina untuk memenuhi kebutuhan dari kawasan-kawasan industri nikel yang ada,” ujar Arif.

Adapun, terdapat sejumlah fasilitas pengolahan terintegrasi dengan tambang nikel yang berada di Maluku Utara.

Antara lain; PT Weda Bay Nickel (WBN) di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, hingga smelter milik Harita Group di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per 2024, terdapat 18 perusahaan smelter nikel yang berada di Maluku Utara dengan serapan tenaga kerja sebanyak 26.936 orang, serta kapasitas produksi 6,25 juta ton per tahun. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata impor bijih dan konsentrat nikel dari Filipina mencapai 13,87 juta sepanjang Januari—November 2025.

Pada periode tersebut, impor nikel melalui pelabuhan Weda tercatat sebesar 10,91 juta ton. Kemudian, 2,45 juta ton impor nikel masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Morowali.

Sisanya, 394.667 ton masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Kolonodale. Lalu, 56.650 ton masuk melalui pelabuhan Samarinda dan 53.400 ton masuk melalui pelabuhan Kendari.

(azr/wdh)

No more pages