Logo Bloomberg Technoz

Impor Nikel dari Filipina Rawan Bengkak ke 30 Juta Ton pada 2026

Azura Yumna Ramadani Purnama
08 January 2026 09:00

Bijih nikel dibongkar dari kapal pengangkut curah Sansho./Bloomberg-Carla Gottgens
Bijih nikel dibongkar dari kapal pengangkut curah Sansho./Bloomberg-Carla Gottgens

Bloomberg  Technoz, Jakarta – Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mengungkapkan impor bijih nikel dari Filipina berpotensi menyentuh 30 juta ton pada tahun ini, atau lebih tinggi dua kali lipat dari total impor sepanjang 2025 sebanyak 15 juta ton, lantaran Indonesia ingin memangkas produksi bijih nikel.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusuma menjelaskan kapasitas produksi fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter nikel di Indonesia pada tahun ini akan mencapai 2,7 juta dry metric ton (dmt) nikel kelas 1 dan kelas 2.

Arif menyatakan Indonesia membutuhkan tambahan sekitar 40—50 juta wet metric ton (wmt) bijih saprolit dan limonit pada 2026 dari besaran tahun lalu sekitar 300 juta dmt.


Dengan demikian, bijih nikel yang dibutuhkan sepanjang tahun ini berpotensi naik menjadi 340—350 juta ton.

Jika produksi bijih pada 2026 dipangkas menjadi 250 juta ton, terdapat kekurangan pasokan dalam negeri sekitar 100 juta ton bijih.