Logo Bloomberg Technoz

Respons BPOM Soal Kelangkaan & Mahalnya Obat di Indonesia

Dinda Decembria
27 November 2025 12:50

Ilustrasi Obat Antibiotik (Envato/wirestock)
Ilustrasi Obat Antibiotik (Envato/wirestock)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)  menanggapi persoalan kekosongan obat dan mahalnya harga obat yang sebelumnya diungkap sebagai imbas sejumlah faktor oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

Melalui proses regulasi, BPOM menekankan terus mendorong percepatan evaluasi izin edar obat melalui pendekatan reliance.

 “BPOM terus mendorong kemudahan akses obat bagi masyarakat, termasuk melalui regulatory reliance yang memungkinkan evaluasi obat bisa lebih cepat, dengan tetap mempertahankan aspek keamanan, efikasi, dan mutu sebagai dasar perlindungan masyarakat,” papar BPOM saat dihubungi Bloomberg Technoz pada Kamis (27/11).


Regulatory reliance adalah pendekatan regulasi di mana sebuah otoritas obat (seperti BPOM) menggunakan atau mengandalkan hasil penilaian, data uji, atau keputusan dari badan regulator lain yang sudah diakui kredibilitasnya, untuk mempercepat proses evaluasi izin edar obat, tanpa menurunkan standar keselamatan, khasiat, dan mutu.

BPOM juga menilai bahwa percepatan proses administrasi tidak akan mengurangi kehati-hatian standar uji. “Keamanan, efikasi, dan mutu adalah parameter final yang selalu kami jaga. Akselerasi dilakukan tanpa mengurangi prinsip perlindungan kesehatan publik,” tambah lembaga regulator obat tersebut.