Ia menambahkan, setiap daerah menyesuaikan jadwal dan jumlah penerima agar program MBG lebih efektif dan sesuai kebutuhan anak.
Ketua KPAI, Margaret Aliyatul Maimunah, menekankan pentingnya mendengar langsung suara anak. “Melalui kajian ini, kami ingin memastikan perspektif anak juga didengar dalam evaluasi dan perbaikan pelaksanaan MBG ke depan,” ujarnya.
BGN berharap masukan dari survei KPAI dapat menjadi panduan memperbaiki kualitas, cita rasa, dan ketepatan distribusi MBG, sehingga anak-anak benar-benar mendapat manfaat optimal dari program ini.
Survei bertajuk Kajian Suara Anak: Mengedepankan Perspektif Anak dalam Program Makan Bergizi Gratis, yang disusun bersama Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dan Wahana Visi Indonesia (WVI), mencatat dari 1.624 responden anak, sebanyak 572 anak (35,2%) mengaku tidak selalu menghabiskan menu MBG yang diterima.
Waktu penyaluran menjadi faktor penting. Sebanyak 114 anak mengaku sudah kenyang ketika menu MBG tiba karena distribusi terlalu pagi atau terlalu siang setelah jam istirahat, sehingga anak lebih dulu makan camilan atau menu lain.
(dec/spt)































