Logo Bloomberg Technoz

Program MBG Dorong Pemberdayaan Ekonomi dan Ketahanan Gizi

Redaksi
30 September 2025 17:31

Petugas menyiapkan paket makanan bergizi gratis (MBG). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Petugas menyiapkan paket makanan bergizi gratis (MBG). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memberi manfaat nyata, tidak hanya bagi anak-anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui sebagai penerima manfaat, tetapi juga bagi warga sekitar dapur penyelenggara. Sejumlah warga mengaku kini memiliki penghasilan tetap berkat kesempatan kerja yang tercipta dari dapur MBG.

Fania Lingga (26), seorang ibu tunggal yang bekerja di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Khusus Tangerang Selatan, mengungkapkan betapa berartinya program ini bagi hidupnya. Setiap hari, ia bersama rekan-rekannya mencuci ribuan ompreng kosong yang kembali dari sekolah-sekolah.
“Alhamdulillah betah. Kerjanya juga enggak terlalu berat. Di sini nyaman, sudah kayak keluarga sendiri,” ujar Fania saat ditemui pekan ini.

Ia menuturkan, pekerjaan di dapur MBG membuatnya jauh lebih bersyukur dibanding pekerjaannya terdahulu. “Pastinya sedih ya kalau MBG berhenti. Karena MBG ini justru banyak didukung. Banyak orang tua yang ingin program ini ada. Buat saya pribadi, saya enggak tahu bisa cari kerja di mana lagi. Karena cuma di sini saya bisa ditampung,” ungkapnya.

Petugas menyiapkan paket makanan bergizi gratis (MBG). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Cerita senada datang dari Jumadin atau akrab disapa Jujun (50), salah satu petugas pencuci ompreng di dapur MBG Tangsel. Bersama 13 rekannya, ia setiap hari mensterilkan sekitar 3.300 ompreng. “Kita bekerja dari pukul 13.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Tim pencuci ompreng ada 12 laki-laki dan 2 perempuan,” kata Jujun.

Meski pekerjaan cukup berat, Jujun mengaku bangga dapat terlibat. “Anak saya juga bangga saya kerja di sini. Bahwa apa yang mereka makan di sekolah, bapaknya ada peran serta di situ,” tuturnya. Ia berharap program MBG terus berlanjut. “Harapannya program ini jangan sampai berhenti. Karena manfaatnya bukan hanya untuk penerima makan, tapi juga buat orang-orang seperti saya yang masih bisa bekerja di sini,” pungkasnya.

Tak hanya pekerja dapur, manfaat MBG juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil. Ifta Bintan, penyedia ikan segar untuk SPPG Tangsel, mengatakan usahanya berkembang pesat sejak menjadi mitra MBG. “Karyawan saya tambah banyak. Mitra kami juga bertambah. Dengan adanya MBG ini, saya banyak membantu ibu-ibu di sekitar rumah untuk ikut bekerja memotong, mencabut duri, lalu memfillet,” ungkap Bintan.

Sejumlah murid menyantap makanan bergizi gratis (MBG).
(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Kini ia memasok 3.000–6.000 potong ikan fillet per hari dengan dukungan enam nelayan, meningkat dari sebelumnya hanya dua. “Justru program ini harus lebih dimaksimalkan agar semakin banyak anak-anak yang mendapatkan makanan bergizi. Saya juga ingin memperkenalkan ikan kepada anak-anak bahwa ikan itu enak dan bergizi,” ujarnya.

Kepala SPPG Khusus Tangsel, Nindy Sabrina, menegaskan pihaknya memang membuka pintu bagi UMKM untuk terlibat. “Semua UMKM bisa datang ke sini, bisa mengetuk pintu. Silakan ajukan penawaran sesuai spesifikasi. Selama kualitas sesuai dan harganya masuk, pasti bisa kami terima,” jelas Nindy.

Ia menambahkan, kebutuhan dapur MBG turut menggerakkan ekonomi lokal. “Daging ayam saja sehari bisa 300–400 kilogram. Belum lagi beras, ikan, dan sayuran. UMKM kan mempekerjakan orang juga. Jadi, banyak sekali masyarakat yang terdampak,” kata Nindy.

Cerita serupa datang dari SPPG Khusus Palmerah, Jakarta Barat, yang mempekerjakan sekitar 40 orang. Salah satunya Niki, juru porsi, yang sebelumnya sempat menganggur setelah kontraknya sebagai SPG pakaian habis. “Senang lah pastinya, suasana kerjanya juga asyik,” katanya. Ia berharap program MBG berkelanjutan. “Ini membantu banget buat pekerja yang tadinya nganggur. Karena jujur aja, cari kerja di Jakarta susah,” tambahnya.

Program MBG juga mendapat apresiasi dari para siswa. Zakaria Judipa, siswa kelas 12 SMK 17 Jakarta, menyebut program ini meringankan beban orang tuanya. “Makan bergizi gratis ini sangat membantu karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk membawakan bekal untuk saya,” ujarnya.

Febi Zahara, siswi kelas 12 di sekolah yang sama, mengaku senang ibunya tak lagi repot menyiapkan bekal. “Mama saya bahagia sekali saat saya cerita kalau di sekolah sudah ada makan bergizi gratis. Jadi mama saya tidak perlu repot-repot lagi nyediain bekal untuk saya,” ucapnya.

Menurut Febi, menu MBG bahkan lebih bergizi daripada bekal sederhana dari rumah. “Kalau bekal dari rumah kan paling cuma nasi sama lauk aja. Kalau MBG bisa empat sehat lima sempurna,” selorohnya sambil tersenyum.