Dia menyebut sebanyak 2.109 peternak sebelumnya telah didata oleh pemerintah untuk mendapatkan kuota SPHP jagung sesuai permintaan.
“Jadi kita juga ingin bahwa subsidi yang diberikan pemerintah ini tepat sasaran, tepat waktu, dan verifikasi dari masing-masing kepala desa nyatanya kita bisa memulai ini,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan peternak dari Jawa Tengah Eti Marlina menyebut saat ini harga jagung untuk pakan peternak telah melonjak ke level Rp6.000/kg hingga Rp8.000/kg. SPHP jagung dinilai dapat membuat harga jagung lebih stabil.
"Ini sangat membantu kami, Bapak-Ibu semua di mana jagung sudah menyentuh harga Rp6.000/kg, Rp7.000/kg, Rp8.000/kg. Besar harapan kami, ini akan membuat harga jagung jadi stabil dan peternak, terutama mikro kecil, UMKM. Itu bisa segera menikmati harga jagung dengan harga wajar. Kami tidak minta harga murah, tapi harga wajar," ucap dia.
Dalam paparannya, Bapanas melaporkan harga rerata jagung pipil kering (JPK) di tingkat peternak per 22 September 2025 sebesar Rp6.692/kg. Adapun di Provinsi Kepulauan Riau harganya mencapai Rp7.913/kg, Kalimantan Timur Rp7.460/kg, dan Aceh mencapai Rp7.000/kg.
Total produksi jagung Januari sampai Oktober 2025 sebanyak 12,96 juta ton, lebih tinggi 460 ribu ton atau 3,68% dibandingkan periode sama pada 2024. Sementara total kebutuhan jagung Januari hingga Oktober 2025 mencapai 12,58 juta ton, lebih tinggi 1,12 juta ton atau 9,77% dibandingkan periode yang sama di 2024.
(ain)






























