“Tergantung hasil studi dan analisis yang kita dapatkan dari lapangan.” katanya.
Sebelumnya, salah satu perusahaan rokok, yakni PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) memberi sinyal bahwa kinerja keuangan perusahaan masih akan berada dalam tekanan. Hal ini imbas lemahnya daya beli masyarakat dan juga kenaikan tarif cukai yang tidak diimbangi kenaikan harga jual.
“Profitability kita itu masih rapuh. Kenaikan cukai yang sudah terjadi belum seluruhnya atau belum dapat terkompensasi oleh kenaikan harga yang proporsional,” kata Heru dalam paparan publik, Kamis (11/9/2025).
Heru menekankan, meski pemerintah telah memutuskan tidak ada kenaikan cukai pada 2025, kondisi itu belum otomatis membuat kinerja keuangan pulih. Pasalnya, kenaikan cukai pada periode sebelumnya masih membebani perusahaan, sementara ruang untuk menaikkan harga rokok terbatas karena risiko kehilangan volume penjualan.
“Dalam situasi di mana buying power masih tertekan, menaikkan harga pasti akan berisiko dengan lebih menurunnya volume. Perbaikan profitability baru realistis kalau daya beli meningkat,” jelasnya.
(ell)






























