AS menginvestasikan ratusan miliar dolar dalam sistem yang diperintahkan Presiden Donald Trump untuk melindungi seluruh wilayah AS dari segala jenis ancaman rudal dan udara.
Banyak sistem yang dipamerkan di parade China diberi label dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan pada dunia bahwa Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) memiliki trisula nuklir: senjata yang ditempatkan dengan cara yang semakin beragam, untuk mencegah serangan nuklir preemptif dan menjamin kemampuan untuk membalas serangan, kata Becca Wasser, kepala bidang pertahanan dari Bloomberg Economics.
"China menampilkan elemen-elemen trisula nuklir yang lengkap," ujar Kelly Grieco, peneliti senior di Stimson Center. "Ini adalah pesan tentang pencegahan strategis."
Baik DF-5 maupun DF-61 jauh lebih besar daripada desain AS dan Rusia yang ada. DF-5C terbagi menjadi tiga bagian untuk perjalanannya melalui Lapangan Tiananmen. Setiap tahapnya diangkut dengan kendaraan berukuran hampir sama dengan yang membawa DF-26 sepanjang sekitar 15 meter melalui lapangan parade.
Diameter rudal lebih dari 3 meter dan empat mesin tahap pertama menyiratkan muatannya sangat besar. Media pemerintah China melaporkan pada 2017 bahwa rudal ini mampu membawa hingga 10 hulu ledak yang bisa ditargetkan secara independen (MIRV), hulu ledak berukuran besar tunggal, atau muatan berat lainnya.
Hulu ledak berukuran besar DF-5C, yang melintas di jalan dengan truk terpisah di depan bagian badan rudal, juga tampak cukup besar untuk menampung "hulu ledak multimegaton," ucap Jeffrey Lewis, direktur Program Nonproliferasi Asia Timur di James Martin Center for Nonproliferation Studies.
Daya ledak yang begitu besar, setara dengan jutaan ton trinitrotoluene (TNT), akan menutupi kekurangan akurasinya, atau ditujukan untuk menghancurkan target yang diperkuat. Hulu ledak terbesar yang digunakan AS dan Rusia berkisar antara 750 kiloton hingga 1 megaton.
Bahan bakar cair menghasilkan daya dorong lebih besar daripada bahan bakar padat, tetapi seringkali lebih mudah terbakar, sulit disimpan, dan sulit diangkut. Rudal DF-5 China yang lebih tua diluncurkan dari gantry atau silo.
Di sisi lain, DF-61 diangkut melalui Beijing dengan truk pengangkut-pemasang-peluncur beroda 16. Kendaraan ini membuat rudal "mobile," memberi komandan fleksibilitas untuk mendistribusikan senjata guna melindungi mereka atau merencanakan serangan.
Kaushal menduga rudal itu kemungkinan besar berbahan bakar padat. Namun, seperti DF-5C, ukurannya—lebih dari 20 meter—menunjukkan muatannya berat, dan kemungkinan besar merupakan penerus ICBM DF-41, yang bisa menjangkau seluruh wilayah di Amerika Utara.
Muatan eksotis dapat mencakup sistem pengeboman orbital fraksional, yang menempatkan hulu ledak di orbit yang tidak stabil di sekitar Bumi, sehingga penyerang bisa menjatuhkannya ke target tanpa peringatan.
China dilaporkan menguji sistem itu pada 2021. Uni Soviet dan AS bereksperimen dengan teknologi ini pada 1970-an dan 1980-an, tetapi akhirnya meninggalkannya karena dianggap terlalu mengganggu stabilitas.
"DF-61 mungkin merupakan platform untuk FOBS atau glider antarbenua," tutur Lewis.
Menurut Ankit Panda dari Carnegie Endowment for International Peace, perbedaan desain ICBM China yang beragam dan rahasia dengan rudal-rudal AS dan Rusia, yang lebih kecil dan mapan, menunjukkan program senjata nuklir yang—seperti yang dilakukan kedua musuh bebuyutan itu selama Perang Dingin—mencoba berbagai jalur pengembangan untuk melihat apa yang layak diinvestasikan.
"Praktik China saat ini lebih mirip dengan AS dan Uni Soviet di era pra-pengendalian senjata Perang Dingin daripada sebelumnya," tukas Panda. "Ini adalah strategi pencegahan yang komprehensif."
(bbn)
































