Sedangkan SUN berdenominasi dolar AS, seri INDON terlihat diserbu. Yield INDON-3Y turun sebesar 2,9 bps, brsama tenor 7Y turun 2,5 bps dan tenor 2Y turun 1,8 bps. INDON-10Y stagnan di 4,715%.
Tekanan yang terjadi di pasar SUN sudah terprediksi mengingat apa yang terjadi di pasar obligasi global kemarin. Yield US Treasury, surat utang Amerika, di semua tenor melonjak tajam pasca rilis data pertumbuhan ekonomi AS dan pengumuman hasil FOMC The Fed.
Yield UST-10Y naik 5 bps menembus 4,37%, bersama tenor 2Y yang bahkan melompat 7,2 bps di level 3,94%.
Kini, selisih imbal hasil SUN dengan UST berada di kisaran 219 bps. Pemodal asing mencatat posisi net sell selama pekan ini hingga data 29 Juli 2025, senilai US$ 86,7 juta, sekitar Rp1,42 triliun dengan kurs terakhir.
Selama Juli, asing masih mencetak posisi beli bersih SUN sebesar US$ 914,9 juta, sekitar Rp15,05 triliun. Sedangkan bila menghitung sepanjang tahun ini sampai data 29 Juli lalu, asing juga masih net buy SUN sebesar US$ 3,45 miliar, sekitar Rp56,92 triliun year-to-date.
Bank Indonesia mengatakan, mereka berada di pasar SUN untuk memberi dukungan pada rupiah yang hari ini tertekan mendekati Rp16.500/US$. Pelemahan rupiah akan memicu arus keluar dana asing lebih besar dari aset domestik termasuk dari SUN.
Melansir Bloomberg News, Kamis (31/7/2025), Direktur Eksekutif Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Hutapea mengatakan, Bank Indonesia mengintervensi pasar dalam negeri, maupun luar negeri untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
Intervensi dilakukan di pasar valas spot, NDF domestik, NDF offshore, juga di pasar surat utang negara.
"Bank sentral memastikan stabilitas rupiah sesuai nilai fundamentalnya melalui berbagai langkah di pasar," kata Erwin.
Erwin mengatakan, pelemahan nilai rupiah hari ini adalah akibat kenaikan lagi pamor dolar AS setelah hasil pertemuan The Fed serta pernyataan bernada hawkish oleh Gubernur The Fed Jerome Powell tentang prospek kebijakan suku bunga AS.
Bank Indonesia menilai, pelemahan rupiah saat ini masih sejalan dengan mata uang sejenis di emerging market.
"Rupiah bergerak sejalan dengan mata uang regional lain yan melemah terutama karena penguatan dolar AS secara luas menyusul keputusan The Fed yang relatif agresif untuk mempertahankan Fed fund rate serta data terbaru ekonomi AS yang kuat di tengah tarif Trump. Hal itu berpotensi mempengaruhi aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang," jelas Erwin.
Melansir data Bloomberg pada pukul 11:22 WIB, rupiah di pasar offshore makin ambles ke level Rp16.484/US$. Level terlemah rupiah NDF offshore hari ini terjadi pagi tadi di Rp16.488/US$.
Sedangkan di pasar spot, rupiah juga terjatuh lemah di level Rp16.460/US$, mencerminkan pelemahan 0,41%.
Level support berikutnya ada di Rp16.480/US$. Bila tekanan tak terhentikan, rupiah potensial menembus level Rp16.500/US$ sebagai support terkuat.
Tekanan yang dialami oleh rupiah terjadi ketika indeks dolar AS saat ini masih stabil di level 99,78. Relatif lebih rendah dibanding perdagangan kemarin ketika DXY melampaui 100 ketika The Fed menggelar konferensi pers.
(rui)























