"Siapa pun yang tergabung dalam BRICS akan segera dikenai tarif 10% [...] Jika mereka anggota BRICS, mereka harus membayar tarif 10% [...] dan mereka tidak akan lama menjadi anggota," tegas Trump, menyitir Reuters, Rabu (9/7/2025).
Akibatnya, bila Indonesia tetap dikenakan tarif perdagangan tinggi, bakal berdampak pada sektor padat karya. Apabila ditetapkan dengan tarif impor tinggi, maka Indonesia perlu melihat seberapa bergantungnya (dependency) AS terhadap produk asal Indonesia.
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan terhadap 150 produk ekspor asal Indonesia, 65,6% dari total nilai ekspor ke AS, terlihat bahwa banyak produk yang dipasok oleh Indonesia seperti produk olahan karet dan kayu, tekstil dan alas kaki, perikanan serta komponen elektronik memiliki tingkat ketergantungan di bawah 50%. Hanya produk olahan kelapa sawit yang memiliki tingkat ketergantungan di atas 50%.
Artinya, mayoritas produk yang diekspor oleh Indonesia rentan akan digantikan oleh negara lain yang memiliki tarif impor yang lebih rendah dari Indonesia. Hal ini disebabkan banyak produk yang diekspor Indonesia merupakan produk komoditas alam bernilai tambah rendah dan produk yang dihasilkan dari sektor teknologi rendah.
“Sudah seharusnya mitigasi dampak dilakukan lebih awal jika skenario terburuk [gagalnya negosiasi tarif] terjadi nantinya. Saat ini saja, industri domestik sudah terpukul akibat lemahnya perhatian yang diberikan oleh pemerintah dan rendahnya upaya proteksi pasar domestik.”
Hal ini terlihat dari capaian kinerja industri pengolahan pada kuartal pertama tahun ini yang berada di bawah pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal pertama, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan adalah 4,5%, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional 4,87%. Pertumbuhan ini tidak setinggi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang berhasil mencapai pertumbuhan dua digit.
Sub-sektor industri pengolahan dinilai cukup baik jika dilihat dari sisi kontributor utama seperti makanan dan minuman, elektronik, dan logam dasar yang tumbuh di atas pertumbuhan PDB industri pengolahan. Namun, kimia dan farmasi mengalami penurunan pertumbuhan dibandingkan periode sama di tahun lalu. Lebih
celakanya lagi, industri otomotif yang justru mengalami kontraksi, melanjutkan capaian negatifnya seperti di tahun lalu.
Delegasi Pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah bertemu dengan U.S. Secretary of Commerce Howard Lutnick dan United States Trade Representative Jamieson Greer pada Rabu (9/7/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan AS sepakat untuk mengintensifkan perundingan tarif dalam tiga pekan ke depan untuk memastikan hasil terbaik bagi kedua belah pihak.
“Kita sudah memiliki pemahaman yang sama dengan AS terkait progres perundingan. Ke depan, kita akan terus berupaya menuntaskan negosiasi ini dengan prinsip saling menguntungkan,” ujar Airlangga dalam siaran pers, Kamis (10/7/2025).
Airlangga mengklaim, Delegasi Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang diterima oleh Pemerintah AS untuk membahas kelanjutan kesepakatan tarif, menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump pada 7 Juli 2025.
(lav)






























