Logo Bloomberg Technoz

Indeks dolar AS ditutup melemah 0,47% kemarin dan pagi ini di Asia bergerak makin melemah di kisaran 98,43. Hal itu memberikan ruang penguatan pada mata uang Asia di mana pada pagi ini terlihat baht melesat 0,39%. 

Di belakangnya, yen juga menguat 0,37%, ringgit serta dolar Singapura, bersama yuan offshore, won Korea juga dolar Hong Kong, semuanya berada di zona hijau. 

Rupiah forward (NDF) di pasar offshore pagi ini bergerak menguat di Rp16.270/US$ setelah tadi malam ditutup sedikit lemah 0,02% di posisi Rp16.275/US$. 

Level tersebut hanya berselisih sedikit dengan posisi penutupan rupiah spot kemarin di Rp16.260/US$, mengisyaratkan peluang penguatan hari ini terbuka didukung sentimen global.

Hari ini, pelaku pasar domestik akan mencermati rilis keyakinan konsumen oleh Bank Indonesia untuk bulan Mei. Data survei konsumen tersebut juga akan memuat perkembangan kondisi keuangan masyarakat Indonesia, termasuk rasio tabungan, rasio utang juga proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi.

Analisis teknikal

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melanjutkan tren penguatan hari ini. Target resistance potensial tembus Rp16.210/US$ hingga mencapai Rp16.200/US$. Level resistance selanjutnya menarik dicermati pada Rp16.180/US$ hari ini, yang saat ini makin mendekati resistance psikologis potensial.

Adapun rupiah terkonfirmasi memiliki level resistance paling menarik di Rp16.100/US$, tercermin dari time frame daily dengan keberhasilan break resistance sebelumnya.

Sementara itu, nilai rupiah juga terkonfirmasi memiliki support Rp16.300/US$ dari posisi saat ini, sementara range support rupiah di antara Rp16.350/US$ sampai dengan Rp16.400/US$.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Rabu 11 Juni 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

Ekspektasi BI rate

Angka inflasi AS yang lebih rendah ketimbang prediksi, terutama untuk inflasi inti, mungkin akan memperkuat ekspektasi pasar akan penurunan lebih lanjut BI rate bulan ini.

Kemarin, yield SBN tenor 10 tahun menyentuh level terendah sejak November, mencerminkan animo yang kian kuat pasar untuk surat utang RI.

Di pasar ekuitas, sentimen penurunan BI rate bisa mendorong kenaikan harga-harga saham termasuk saham perbankan, saham konsumer juga saham properti. 

Penurunan BI rate mungkin dibutuhkan untuk mendorong perekonomian terbesar di Asia Tenggara yang tengah menghadapi kelesuan daya beli ini.

Lembaga pemeringkat global S&P Global's Ratings, memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia tahun ini akan melambat hanya melaju 4,6%.

Pengucuran stimulus fiskal senilai Rp24,4 triliun dinilai belum akan mampu mengubah prospek ekonomi tahun ini karena akan memberi dampak terbatas pada momentum konsumen secara keseluruhan, menurut Virgi Rana, Ekonom Senior S&P Global Ratings, melansir Bloomberg News.

S&P Global memperkirakan BI akan kembali memangkas bunga acuan hingga menjadi 4,75% pada akhir tahun ini seiring inflasi yang terkendali, juga menimbang upaya stabilisasi rupiah yang akan diuntungkan oleh tren bearish dolar AS. 

Kesepakatan AS-Tiongkok

Dua negara besar mengakhiri perundingan selama dua hari dengan menghidupkan lagi arus barang-barang sensitif dan saat ini menunggu persetujuan pimpinan tertinggi yakni Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping.

Trump pada Kamis dini hari waktu Indonesia mengatakan kerangka kerja perdagangan dengan Tiongkok telah selesai dengan negeri panda akan memasok tanah jarang ke AS. China akan memasok di muka untuk komoditas tersebut.

Selain itu, AS akan membolehkan mahasiswa Tiongkok tetap masuk dan belajar di perguruan tinggi AS.

"Kesepakatan kita dengan China telah selesai, tunduk pada persetujuan akhir dengan Presiden Xi dan saya. Kita mendapatkan total tarif 55%, China mendapatkan 10%. Hubungan ini sangat baik!" kata Trump di akun media sosialnya.

Masih belum jelas apakah total tarif 55% bagi AS berarti penentuan tarif Amerika bagi barang-barang Tiongkok jadi lebih tinggi daripada yang terakhir, atau naik dari 30% menjadi 55%.

"Trump menyebutkan status tarif saat ini dengan cara yang menyesatkan untuk menunjukkan bahwa ia memiliki keunggulan," komentar Neo Wang, Macro Analyst terkemuka dari Evercore ISI di Tiongkok, melansir Bloomberg News.

Komentar Trump memicu pertanyaan baru tentang ketentuan perjanjian yang dicapai oleh negosiator AS dan China pada Selasa. Reaksi pasar pun beragam pada Rabu kemarin di mana dolar AS ditutup melemah, sedangkan bursa saham Wall Street ditutup merah. Yield UST terpangkas terutama karena data inflasi yang rendah.  

(rui)

No more pages