Logo Bloomberg Technoz

RI Rawan Gagal Cuan dari Kobalt Saat Kongo Moratorium Ekspor

Mis Fransiska Dewi
15 May 2025 14:20

Pabrik pegolahan kobalt. (Dok: Bloomberg)
Pabrik pegolahan kobalt. (Dok: Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Indonesia berpotensi gagal memanfaatkan momentum penguatan harga kobalt pada saat Republik Demokratik Kongo (DRC) kukuh melanjutkan moratorium ekspor mineral logam bahan baku baterai kendaraan listrik tersebut.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar mengatakan, meskipun Indonesia adalah penghasil kobalt terbesar kedua di dunia setelah Kongo, industri pertambangan komoditas tersebut masih belum dikembangkan.

“Industri pengolahan kobalt di Indonesia memang belum berkembang seperti halnya nikel. Sebagian besar kobalt masih dijadikan sebagai [komoditas] ikutan bijih nikel,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (15/5/2025).

Nikel sulfat (kiri), kobalt sulfat (tengah), dan mangan sulfat./Bloomberg- SeongJoon Cho

Dengan kondisi tersebut, Bisman pun menyangsikan Indonesia dapat memperoleh keuntungan untuk mengisi pasar yang ditinggalkan oleh kobalt asal Kongo di industri baterai global. Harga kobalt, padahal, sedang bagus.

“Jadi ini momentum dan peluang pasar bagi Indonesia. Sayangnya, Indonesia belum sepenuhnya siap dan maksimal untuk mengisi pasar yang kosong ditinggal Kongo,” ujarnya.