Bisman menambahkan pangsa pasar ekspor kobalt asal Indonesia selama ini masih sama dengan nikel, yaitu ke China, lantaran kobalt masih dikategorikan sebagai mineral ikutan dalam komoditas nikel.
Peran Kecil
Vice President, Head of Marketing, Strategy and Planning PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengamini bahwa peran kobalt asal Indonesia cenderung masih kecil di tingkat global, meskipun negara ini tercatat sebagai penghasil terbesar kedua di dunia.
Oktavianus mengatakan pada 2024 produksi kobalt Indonesia mencapai 28.000 metrik ton atau meningkat dari 19.000 metrik ton pada 2023, berdasarkan laporan United States Geological Survey (USGS).
Sejak 2023, RI hanya kalah dari Republik Demokratik Kongo yang menjadi produsen kobalt terbesar di dunia. Negara terbesar kedua di Benua Afrika itu memiliki produksi kobalt sebanyak 170.000 ton sepanjang 2023.
Menurut Oktavianus, peningkatan hilirisasi nikel mendorong produksi kobalt pada 2024, seiring dengan pertumbuhan industri pengolahan nikel dan pembangunan smelter baru. Apalagi, kobalt biasanya merupakan salah satu mineral ikutan di dalam bijih nikel.
Berdasarkan data The Observatory of Economic Complexity (OEC) World 2023, Indonesia melakukan ekspor kobalt ke Korea Selatan senilai US$58.000, Inggris US$21.400 ribu, dan Amerika Serikat (AS) US$5.440.
VCadangan kobalt Indonesia berdasarkan data USGS pada 2023 mencapai 500.000 ton atau di posisi ketiga terbesar di dunia, setelah Kongo yang mempunyai cadangan sebanyak 6 juta ton dan Australia 1,7 juta ton.
“Maka melihat data tersebut, peran Indonesia di global untuk kobalt cenderung masih kecil dan dengan adanya kenaikan tarif royalti sebesar 1,5% untuk logam kobalt dan 2% untuk kobalt yang dihasilkan sebagai produk sampingan dari nickel matte akan meningkatkan beban operasional,” kata Oktavianus saat dihubungi baru-baru ini.
Moratorium Kongo
Di tingkat global, Kongo berencana melanjutkan larangan ekspor kobalt sehingga berpotensi membuat harga logam tersebut melonjak dan menyebabkan produsen baterai global mencari alternatif.
Harga kobalt telah melonjak lebih dari 50% sejak negara Afrika yang bertanggung jawab atas tiga perempat produksi global itu menghentikan ekspor pada 22 Februari.
Perpanjangan larangan atau kuota yang ketat dapat mendorong harga lebih tinggi lagi, kata Benchmark Mineral Intelligence pada Rabu (14/5/2025) dalam sebuah laporan yang disiapkan untuk Cobalt Institute.
“Pemerintah DRC telah mengindikasikan bahwa kontrol ekspor lebih lanjut, termasuk perpanjangan larangan, atau kuota, akan menyusul,” kata Benchmark.
Tidak seperti logam baterai lainnya seperti nikel dan litium yang ditambang secara mandiri, kobalt sebagian besar diproduksi sebagai produk sampingan dari tambang tembaga di DRC dan tambang nikel di Indonesia.
Kongo memoratorium ekspor kobalt selama empat bulan pada Februari setelah harga jatuh ke posisi terendah dalam sejarah akibat meningkatnya produksi oleh CMOC Group Ltd dari China di dua operasinya di negara tersebut.
Permintaan logam tersebut, yang juga digunakan dalam paduan super dan aplikasi pertahanan, tumbuh 12% tahun lalu dan tetap kuat, kata Benchmark.
Namun, laporan tersebut menguraikan keseimbangan yang rumit antara pembuat kebijakan, penambang, dan produsen saat mereka berupaya mengamankan bahan baku utama.
Banyak pembuat kendaraan listrik China telah beralih ke baterai litium besi fosfat atau lithium ferro phosphate (LFP) yang tidak mengandung kobalt. Pasar EV menyumbang 43% dari permintaan kobalt pada tahun 2024.
Pengendalian produksi kobalt rumit di Kongo karena hubungannya dengan tembaga. Harga logam tersebut mencapai titik tertinggi dalam sejarah tahun lalu, memacu peningkatan produksi.
Akibatnya, CMOC memproduksi 31% lebih banyak dari kapasitas kobalt yang dinyatakan di tambangnya, menurut laporan tersebut.
Glencore Plc dan Eurasian Resources Group merupakan produsen kobalt terbesar kedua dan ketiga di negara tersebut.
Indonesia menyumbang 12% dari pasokan global tahun lalu dan diperkirakan akan mencapai 22% pada 2030, kata Benchmark.
Kobalt telah menjadi titik api dalam perebutan mineral-mineral penting di dunia. China memurnikan 79% logam tersebut, sedangkan Finlandia di posisi kedua hanya menyumbang 7% tahun lalu, kata Benchmark.
AS sedang berunding dengan Kongo tentang pengamanan akses ke mineral-mineral penting termasuk kobalt dengan imbalan bantuan keamanan.
“Mengingat dominasi China di seluruh rantai pasokan kobalt dan bagian-bagian penting dari rantai nilai baterai, diversifikasi pasokan dan pengurangan risiko dari China merupakan salah satu pendorong geopolitik utama,” menurut laporan tersebut.
Pertambangan skala kecil dan artisanal, yang menyumbang sekitar 10% dari produksi Kongo pada 2018, turun menjadi kurang dari 2% dari produksi negara itu tahun lalu di tengah harga yang rendah dan produksi CMOC yang meledak, menurut laporan tersebut.
“Karena volume pertambangan industri di DRC sekarang jauh lebih besar daripada sebelumnya, bahkan dengan potensi kenaikan harga di masa mendatang,” pertambangan artisanal tidak akan mendapatkan kembali pangsa pasarnya sebelumnya.
Pertambangan artisanal beberapa logam menyediakan mata pencaharian bagi jutaan orang Kongo, meskipun kekhawatiran tentang keselamatan dan pekerja anak telah memacu gerakan global untuk mengaturnya.
(wdh)






























