Logo Bloomberg Technoz

“Soal IRA itu dilema buat AS karena kalau mereka tidak mengimpor dari kita, mereka akan kesulitan. Mereka butuh hampir 800.000 ton nikel kalau mereka menargetkan 11 kali dari produksi [baterai]nya saat ini sampai dengan 2030. Hampir setengahnya itu dari Indonesia,” jelasnya.

Dia menjelaskan hanya karena Indonesia tidak memiliki kesepakatan perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) bilateral dengan AS, negara tersebut mengecualikan nikel dari program insentifnya.

“Mereka tidak mencari model [kerja sama lain] agar kita bisa ekspor [nikel] ke mereka, misal dengan limited FTA. Kalau tidak ada itu, bukan kita yang akan kesulitan. Mereka yang sulit karena tidak ada pasokan [nikel] lagi. Kita bisa ekspor ke negara lain,” tegas Luhut. 

Produsen nikel terbesar dunia pada 2022. (Sumber: Bloomberg)


Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey sebelumnya menilai apa yang dilakukan AS bukan suatu yang terlampau mengkhawatirkan bagi Indonesia. Terlebih, AS bukanlah negara tujuan ekspor utama dari hasil pengolahan awal bijih nikel kadar rendah atau limonit, seperti nikel sulfat dan kobalt sulfat.

Sebagai upaya antisipasi atau mengurangi dampak dari kebijakan tersebut, Meidy menyebut sudah sepatutnya Indonesia memanfaatkan perjanjian dagangnya dengan negara-negara potensial tujuan ekspor hasil pengolahan awal bijih nikel. 

“Masih ada perjanjian perdagangan bebas lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk ekspor produk nikel Indonesia. Kemudian, Indonesia juga bisa memanfaatkan forum-forum lainnya untuk mendapatkan insentif seperti halnya insentif yang diberikan AS lewat IRA,” katanya ketika dihubungi oleh Bloomberg Technoz, belum lama ini.

Selain itu, lanjutnya, Indonesia juga punya posisi tawar yang lebih tinggi dibandingkan dengan AS selaku pemasok bahan mentah. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yang tentu saja dibutuhkan oleh negara-negara yang mengembangkan industri kendaraan listriknya.

“Separuh cadangan nikel dunia itu ada di Indonesia. Investasi sebesar apapun jika tidak ada pasokan raw material atau bahan mentahnya bakal percuma saja. Di sini Indonesia punya peran penting,” tuturnya. 

Berdasarkan data USGS pada Januari 2020 dan Badan Geologi 2019, mengutip dari Booklet Nikel yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2020, jumlah cadangan nikel RI tercatat mencapai 72 juta ton nikel, termasuk nikel limonit atau kadar rendah. Jumlah ini mencapai 52% dari total cadangan nikel dunia sebesar 139,41 juta ton nikel.

(wdh)

No more pages