Logo Bloomberg Technoz

Pemerintah Diminta Cari Pasokan Sulfur Baru dari Australia-Eropa

Sabrina Mulia Rhamadanty
05 June 2026 10:00

Tumpukan sulfur terlihat di sebuah pelabuhan di British Columbia, Kanada. (Fotografer: Darryl Dyck/Bloomberg)
Tumpukan sulfur terlihat di sebuah pelabuhan di British Columbia, Kanada. (Fotografer: Darryl Dyck/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mendorong pemerintah agar membantu industri hilir nikel khususnya pabrik pemurnian (smelter) untuk mendapatkan pasokan sulfur baru. 

Untuk diketahui gangguan rantai pasok global, terutama dari kawasan Timur Tengah hingga ditutupnya Selat Hormuz, telah mengganggu operasional pabrik pengolahan nikel berbasis hidrometalurgi karena kesulitan mengimpor sulfur. 

“Cari sumber baru. Kita sih sudah merekomendasikan beberapa sumber. Bahkan kita sudah bikin surat resmi. Australia ada meski kecil [kapasitas produksi] dan Eropa ada di Bulgaria,” katanya saat ditemui usai agenda Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026 di Jakarta, dikutip Jumat (5/6/2026). 


Sebagai gambaran, dari total 5,3 juta ton impor sulfur sepanjang 2025, 75%-80% kebutuhan tersebut berasal dari Timur Tengah. 

Meidy juga mengingatkan bahwa meskipun Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat, dampaknya tidak akan langsung menyelesaikan masalah operasional di tanah air.