Logo Bloomberg Technoz

Pemilik akun Instagram dengan pengikut 74,8 juta itu mengeklaim hanya membagikan kegiatan bersama Gibran kepada basis penggemarnya, tetapi juga sejumlah artis memang ingin mengikuti kegiatan tersebut. 

Raffi Ahmad setelah acara Sunmori bersama Gibran Rakabuming Raka, Minggu (4/2/2024)./Bloomberg Technoz-Mis Fransiska Dewi


Meski dianggap deklarasi kepada pasangan 02, Raffi menyebut telah berbicara kepada sejumlah artis yang ingin mengikuti kegiatannya dapat di-framing terafiliasi dengan Gibran. Namun, dia mengeklaim artis-artis itu tidak mempermasalahkannya.

“Ini musimnya kampanye, sensitif nanti terafiliasi Gibran, [para artis] enggak papa. Mereka juga dukung Gibran secara pemilu bebas, umum. Saya juga enggak pernah nanya ke teman-teman [artis], tetapi yang mau dukung paslonnya juga suka ngungkapin sendiri,” kata Raffi di di Restoran Sate Celup, Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (4/2/2024).

Dalam kesempatan yang sama, Gading Marten juga mendukung Gibran karena dianggap sebagai perwakilan anak muda. “Punya visi dan misi yang jelas. Sehati sama kami,” imbuh Gading.

Pada Jumat (2/2/2024), Gibran juga ikut bermain futsal bersama sejumlah atlet sepak bola dan beberapa artis. Putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu satu tim dengan Syamsir Alam, Christian Gonzalez, Raffi Ahmad, dan Jerry Likumahwa. Sedangkan lawannya terdiri dari Tarra Budiman, Putra Siregar, Atep, Alshad Ahmad dan Marshel Widianto.

Sebelumnya, Gibran juga pernah hadir dengan musisi Jazz Tompi dalam konser Jazz the 2 of Us. Dalam kegiatan itu juga banyak musisi sertas artis yang datang. 

Gibran Rakabuming Raka di acara Sunmori bersama sejumlah selebritas, Minggu (4/2/2024)./Bloomberg Technoz-Mis Fransiska Dewi

Ketinggalan  Zaman

Menanggapi fenomena tersebut, Peneliti Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Firman Noor menilai cara yang ditempuh untuk mendapatkan pendulang suara (vote getter) dengan mengikutsertakan selebritas sudah ketinggalan zaman.

Hal ini, menurutnya, sudah digunakan saat zaman Orde Baru di mana kala itu tingkat pendidikan masyarakat Indonesia masih rendah dan mudah sekali dipancing dengan pesona kampanye dari para artis.

“Dengan tingkat pendidikan jauh lebih baik saat ini, penggunaan metode kampanye artis itu ketinggalan zaman dan tidak mendidik walaupun masih cukup atraktif bagi sebagian masyarakat,” tuturnya.

Dia menambahkan, terdapat fenomena masyarakat hanya hadir untuk melihat artisnya saja tapi belum tentu akan memilih paslon tersebut karena perlu ada riset tersendiri untuk mengukurnya ditambah kondisi politik terus bergerak.

“Di media sosial ada terang-terangan pakai kaos apa ditanya pilihannya lain lagi bisa jadi artis didatangkan untuk merebut perhatian tapi masyarakat belum tentu sepakat dalam keinginannya,” imbuhnya.

Berbeda pendapat, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai kampanye bersama artis dan influencer bisa saja efektif untuk meningkatkan elektabilitas paslon. Hal itu terbukti karena beberapa bulan terakhir, dia menilai, elektabilitas paslon 02 cenderung meningkat dibandingkan dengan paslon 01 dan 03. 

Dalam kontestasi pilpres, kata dia, cara itu merupakan hal yang lumrah untuk mendapatkan simpati publik agar memenangkan pilpres. Dukungan itu juga bisa diartikan untuk merepresentasikan kaum milenial dan gen Z karena pemilih 2024 didominasi oleh pemilih pemula, maka pendekatannya juga harus dari kalangan muda.

“Saya melihat artis dan influencer itu membangun pencitraan [bagi] Prabowo dan Gibran. Cara ini penting, karena menggunakan artis dalam industri pencitraan bisa memoles banyak hal,” kata Ujang saat dihubungi.

Berdasarkan jajak pendapat teranyar, Roy Morgan mencatat total tingkat keterpilihan atau elektabilitas sembilan partai pengusung pasangan calon 02, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka meningkat 9,5% dari sebelum pendaftaran ke KPU. Kini, sebutnya, koalisi yang berisi Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat, PAN, PSI, PBB, Partai Garuda, dan Partai Gelora mencapai 49%.

"Seiring dengan meningkatnya dukungan untuk Prabowo, dukungan untuk partai-partai dalam 'Koalisi Indonesia Maju'," kata Ira Soekirman, Direktur Roy Morgan Indonesia.

Secara lebih terperinci, dua partai pengusung Prabowo-Gibran mengalami peningkatan elektabilitas dibandingkan September 2023. Paling tertinggi adalah Partai Gerindra yang naik 5% menjadi 21,5%; dan Partai Golkar yang naik 2,5% menjadi 10,5%.

Menurut lembaga survei Indikator, mayoritas Gen Z (usia 26 tahun ke bawah) dan Milenial (usia 27-42 tahun) memilih pasangan capres dan cawapres Prabowo-Gibran.

Hal ini tercatat dalam laporan mereka yang bertajuk Efek Gibran dan Dinamika Elektoral Terkini yang dirilis Minggu (12/11/2023). Laporan itu mencatat, dari kelompok responden Gen Z, kira-kira separuhnya atau 52,4% memilih Prabowo-Gibran.

"Kemudian, di kelompok responden milenial, yang memilih pasangan nomor urut 2 itu ada 40%," ujarnya.

(mfd/wdh)

No more pages