Di tengah konflik, ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk Persia kembali meningkat sehingga menekan harga minyak di Timur Tengah. Namun, pengiriman produk minyak masih terkendala. Gangguan pasokan tersebut, bersama dengan meningkatnya serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia, turut mendorong kenaikan harga bensin dan solar.
“Peningkatan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah, ditambah pernyataan Presiden Trump bahwa ia tidak memiliki rencana untuk segera menyerang Iran, untuk sementara terus menekan harga minyak mentah,” kata Dennis Kissler, wakil presiden senior bidang perdagangan di BOK Financial Securities Inc. Ia menambahkan, “Kendali Partai Demokrat atas Kongres juga dapat memperketat belanja militer AS” dan mempercepat berakhirnya perang.
Hasil pemilu dan sikap Trump yang menahan diri untuk tidak melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran turut memengaruhi pasar energi pada Rabu (4/11). Harga minyak mentah Laut Utara merosot ke level terendah baru, sementara harga gas alam Eropa juga anjlok.
Meski demikian, pasokan bahan bakar masih ketat. Di AS, persediaan minyak sulingan—kategori yang mencakup solar—turun di bawah 100 juta barel pada pekan lalu. Menurut data pemerintah, angka tersebut merupakan yang terendah sejak 2003. Sementara itu, persediaan minyak mentah nasional turun untuk pekan kelima berturut-turut.
Harga:
- Minyak mentah WTI untuk pengiriman Desember tidak banyak berubah di level US$88,29 per barel pada pukul 07.58 waktu Singapura.
- Minyak mentah Brent untuk penyelesaian Januari ditutup turun 8,7% ke level US$94,62 per barel pada Rabu.
(bbn)






























