Berdasarkan catatan laporan keuangan, pinjaman jangka pendek tersebut berasal dari sejumlah fasilitas kredit perbankan yang diperuntukkan bagi pembiayaan kebutuhan modal kerja perseroan.
Per 30 September 2026, saldo pinjaman terbesar berasal dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp900 miliar dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar Rp600 miliar.
Selain itu, MTEL memiliki pinjaman dari PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNLI) sebesar Rp550 miliar serta PT Bank HSBC Indonesia sebesar Rp150 miliar.
Sementara itu, pinjaman jangka pendek dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang sebelumnya tercatat Rp400 miliar telah dilunasi pada periode berjalan.
Di tengah peningkatan pinjaman tersebut, kinerja laba MTEL cenderung stagnan. Perseroan membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp1,55 triliun sepanjang Januari-September 2026, naik tipis 0,77% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,54 triliun.
Pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp7,01 triliun, meningkat 1,81% secara tahunan dari Rp6,88 triliun. Namun, kenaikan pendapatan tersebut belum mampu mendorong pertumbuhan laba operasional.
MTEL mencatat laba bruto sebesar Rp3,5 triliun, turun 0,69% dibandingkan Rp3,52 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba usaha menyusut 1,55% menjadi Rp3,05 triliun dari sebelumnya Rp3,09 triliun.
Penurunan laba usaha terjadi ketika beban pokok pendapatan meningkat menjadi Rp3,5 triliun dari Rp3,36 triliun. Beban penyusutan dan amortisasi juga tercatat meningkat masing-masing menjadi Rp1,43 triliun dan Rp1,34 triliun.
Meski demikian, beban pendanaan perseroan justru mengalami penurunan. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, beban pendanaan MTEL tercatat sebesar Rp789 miliar, turun 9,54% dibandingkan Rp872,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan beban pendanaan tersebut turut menopang laba sebelum pajak penghasilan yang tercatat sebesar Rp1,66 triliun, naik tipis dari Rp1,66 triliun pada Januari-September 2025.
Dari sisi arus kas, MTEL memperoleh kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp5,31 triliun. Angka tersebut turun sekitar 6,55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,68 triliun.
Sementara itu, posisi kas dan setara kas perseroan pada akhir September 2026 tercatat sebesar Rp572,9 miliar, lebih rendah dibandingkan posisi awal tahun sebesar Rp608,6 miliar.
(dhf)




























