Logo Bloomberg Technoz

Mitratel Perkuat Ekosistem Digital Nasional, Bidik Bisnis Baru


(Dok. Mitratel)
(Dok. Mitratel)

Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel terus mengakselerasi transformasi bisnis seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital di Indonesia. Strategi ini ditujukan untuk memperluas jangkauan konektivitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di berbagai wilayah.

Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko atau Teddy menilai momentum peringatan 81 tahun kemerdekaan RI menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan kemajuan pembangunan nasional, termasuk dalam upaya memperluas pemerataan akses dan infrastruktur digital.

“Bagi Mitratel, 81 tahun kemerdekaan Indonesia merupakan momentum untuk melihat kembali bagaimana pembangunan nasional terus berkembang, termasuk dalam menghadirkan akses dan infrastruktur digital yang semakin merata,” ungkap Teddy.

Menurut Teddy, kemerdekaan di era digital memiliki makna yang lebih luas. Masyarakat di berbagai wilayah perlu memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh akses informasi, komunikasi, pendidikan, layanan publik, dan peluang ekonomi melalui konektivitas yang berkualitas.

“Sebagai perusahaan yang memiliki infrastruktur telekomunikasi di berbagai wilayah Indonesia, Mitratel melihat bahwa pemerataan konektivitas merupakan bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” ujarnya.

Ia menilai pembangunan infrastruktur digital memiliki peran strategis dalam membuka akses masyarakat terhadap berbagai aktivitas ekonomi. Konektivitas yang semakin merata juga dapat mempertemukan masyarakat dan pelaku usaha daerah dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Transformasi tersebut dilakukan Mitratel sejalan dengan program strategis Danantara dan PT Telkom Indonesia Tbk. Perusahaan kini mendorong perubahan dari perusahaan menara telekomunikasi menjadi Next-Generation Tower Company.

Perubahan arah bisnis tersebut berlangsung ketika kebutuhan terhadap konektivitas terus meningkat. Pertumbuhan konsumsi data, video streaming, media sosial, cloud, hingga artificial intelligence atau AI membuat kebutuhan terhadap infrastruktur digital semakin kompleks.

“Kebutuhan konektivitas masyarakat saat ini telah berkembang pesat. Pertumbuhan konsumsi data, video streaming, media sosial, cloud, hingga perkembangan artificial intelligence (AI) mendorong kebutuhan terhadap jaringan yang tidak hanya luas, tetapi juga semakin cepat, andal, dan memiliki kapasitas tinggi,” kata Teddy.

Menurutnya, transformasi Mitratel bukan sekadar perubahan model bisnis. Perusahaan juga perlu memastikan aset dan ekosistem infrastruktur yang dimiliki mampu mengikuti perkembangan kebutuhan konektivitas nasional.

“Karena itu, Mitratel terus bertransformasi dari perusahaan yang berfokus pada penyediaan menara telekomunikasi menjadi Next-Generation Tower Company dengan memperkuat ekosistem infrastruktur digital yang lebih terintegrasi,” tuturnya.

Fiber dan Menara Jadi Fondasi Transformasi

Salah satu fokus pengembangan Mitratel adalah memperkuat konektivitas melalui Fiber to the Tower atau FTTT. Integrasi antara menara dan jaringan fiber menjadi semakin penting untuk meningkatkan kapasitas jaringan sekaligus mendukung pengembangan teknologi telekomunikasi.

FTTT juga berperan dalam mendukung densifikasi jaringan 4G dan ekspansi 5G. Infrastruktur tersebut dipersiapkan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan kapasitas jaringan seiring pertumbuhan konsumsi data masyarakat.

Momentum setelah proses lelang frekuensi juga membuka ruang bagi Mitratel untuk memperkuat ekspansi menara dan fiber. Tambahan spektrum dapat mendorong operator meningkatkan kebutuhan terhadap menara, kolokasi, tower sharing, serta konektivitas fiber.

Kondisi tersebut memberikan peluang bagi perusahaan untuk mengoptimalkan aset yang telah dimiliki. Pengembangan infrastruktur tidak hanya diarahkan pada penambahan menara, tetapi juga peningkatan kapasitas dan integrasi layanan.

Mitratel saat ini memiliki lebih dari 40.000 menara yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sekitar 59% dari menara tersebut berada di luar Jawa, menunjukkan fokus perusahaan dalam mendukung pemerataan infrastruktur telekomunikasi.

Selain menara, Mitratel juga terus mengembangkan jaringan fiber optik yang telah mencapai lebih dari 59.000 kilometer. Infrastruktur tersebut menjadi fondasi untuk mendukung kebutuhan konektivitas operator dan pelanggan di berbagai daerah.

Ekosistem infrastruktur tersebut ke depan akan diperkuat melalui pengembangan managed services, power solutions, dan berbagai solusi infrastruktur digital lainnya. Diversifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas sumber pertumbuhan.

“Semakin kuat dan terintegrasi infrastruktur digital, semakin besar pula peluang masyarakat dan pelaku usaha di berbagai daerah untuk terhubung dengan pusat ekonomi, memperoleh akses terhadap layanan digital, dan berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Teddy.

Dalam tiga hingga lima tahun mendatang, Mitratel menargetkan penguatan posisi sebagai salah satu pemain utama infrastruktur digital Indonesia. Perusahaan akan memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas, utilisasi, serta efisiensi aset.

Strategi tersebut membuat pertumbuhan perusahaan tidak lagi semata-mata bergantung pada pembangunan menara baru. Optimalisasi aset yang sudah tersedia menjadi bagian penting untuk meningkatkan kinerja bisnis.

Teddy mengatakan peningkatan tenancy menjadi salah satu faktor yang akan diperhatikan. Selain itu, perusahaan akan mengembangkan bisnis fiber dan konektivitas serta mencari sumber pertumbuhan baru yang dapat melengkapi ekosistem menara.

“Pertumbuhan ke depan tidak hanya berasal dari penambahan jumlah menara, tetapi juga dari peningkatan tenancy, optimalisasi aset, pengembangan fiber dan konektivitas, serta pertumbuhan bisnis-bisnis baru yang melengkapi ekosistem menara,” katanya.

Pendekatan tersebut mencerminkan perubahan kebutuhan industri telekomunikasi. Infrastruktur menara tetap menjadi fondasi, tetapi kebutuhan operator dan pelanggan kini semakin membutuhkan layanan yang terintegrasi.

Karena itu, Mitratel juga melihat peluang pengembangan bisnis di luar menara konvensional. Perusahaan membuka ruang bagi pengembangan berbagai solusi infrastruktur digital yang dapat menjawab kebutuhan operator maupun pelanggan non-operator.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas portofolio perusahaan sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru. Dengan ekosistem yang semakin terintegrasi, Mitratel dapat menawarkan lebih banyak solusi dibandingkan sekadar penyedia ruang menara.

“Dengan demikian, portofolio Mitratel dapat berkembang dari sekadar menyediakan tower space menjadi ekosistem infrastruktur yang mampu mendukung berbagai kebutuhan konektivitas digital Indonesia,” tutur Teddy.

Transformasi tersebut juga menjadi respons terhadap perubahan pola konsumsi layanan digital. Peningkatan penggunaan layanan berbasis data membuat kualitas jaringan, kapasitas, dan keandalan infrastruktur menjadi semakin penting.

Di tengah perkembangan AI dan layanan digital lainnya, kebutuhan terhadap jaringan berkapasitas tinggi diperkirakan terus meningkat. Kondisi ini membuka peluang bagi penyedia infrastruktur untuk mengembangkan layanan yang lebih terintegrasi.

Bagi Mitratel, keberadaan lebih dari 40.000 menara dan jaringan fiber yang terus berkembang menjadi modal untuk menangkap peluang tersebut. Penyebaran aset di luar Jawa juga memberikan posisi strategis dalam mendukung pemerataan konektivitas nasional.

Perusahaan selanjutnya akan mengoptimalkan aset, memperkuat konektivitas, serta mengembangkan bisnis pendukung yang dapat meningkatkan nilai ekosistem. Strategi tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing Mitratel sekaligus mendukung kebutuhan digital Indonesia.

Dengan transformasi menuju Next-Generation Tower Company, Mitratel menempatkan infrastruktur digital sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas. Perusahaan tidak hanya berfokus pada penyediaan menara, tetapi juga konektivitas, fiber, layanan terkelola, solusi energi, serta berbagai infrastruktur digital lainnya.

Strategi tersebut pada akhirnya diarahkan untuk menjawab kebutuhan konektivitas yang terus berkembang. Dengan infrastruktur yang lebih terintegrasi, masyarakat dan pelaku usaha di berbagai wilayah diharapkan memiliki akses yang semakin luas terhadap ekonomi digital dan berbagai peluang pertumbuhan.