“Proyek-proyek tersebut akan dilaksanakan melalui dua perusahaan patungan, Nyinahini Bauxite dan Ghana Alumina Company. Rusal akan memegang saham mayoritas di masing-masing perusahaan,” tulis Rusal dalam pengumuman resminya, dilansir akhir pekan lalu.
Rusal mengungkapkan sesuai regulasi yang berlaku di Ghana, pihak Ghana akan memegang saham minoritas–termasuk kepemilikan saham sebesar 10% yang tidak dapat terdilusi.
Kemudian, perusahaan patungan tersebut akan diberikan hak untuk melakukan eksplorasi, menambang, dan mengolah bauksit di Ghana sebagai bagian dari pengembangan industri aluminium terintegrasi.
“Ghana memiliki beberapa cadangan bauksit belum dikembangkan terbesar di Afrika Barat, dan kami melihat peluang untuk membangun rantai produksi terintegrasi di sini, mulai dari penambangan 5 juta metrik ton bijih per tahun hingga produksi 1,2 juta metrik ton alumina,” kata Direktur Utama Rusal Evgeniy Nikitin.
Nikitin menambahkan, Rusal telah beroperasi di Afrika selama lebih dari 20 tahun. Pengalaman tersebut dinilai akan mendukung pelaksanaan proyek di Ghana secara efisien, mulai dari tahap perancangan hingga mencapai kapasitas produksi penuh.
Sementara itu, Chief Executive Officer GIADEC Reindorf Twumasi Ankrah mengatakan perjanjian tersebut sejalan dengan tujuan perusahaan untuk membangun industri aluminium terintegrasi di Ghana, sehingga bauksit dapat diolah di dalam negeri.
“Perjanjian ini sepenuhnya sejalan dengan tujuan GIADEC untuk membangun industri aluminium terintegrasi di Ghana yang akan memungkinkan kami mengolah bauksit kami di dalam negeri. Melalui RUSAL, sebuah perusahaan dengan keahlian teknologi yang luas dan pengalaman sukses selama bertahun-tahun di Afrika, kami telah menemukan mitra yang mampu mewujudkan tujuan-tujuan ini,” ujar Ankrah.
Sebagai konteks, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyatakan Rusal berminat berinvestasi secara besar-besaran di Indonesia untuk membangun pabrik pengolahan atau smelter bersama perusahaan dalam negeri.
Prabowo menyatakan produsen aluminium terbesar kedua di dunia itu bakal berinvestasi dengan sejumlah kelompok atau perusahaan di Indonesia.
"Rusal akan masuk secara besar-besaran ke Indonesia, mengembangkan pabrik pengolahan bersama dengan kelompok-kelompok Indonesia," kata Prabowo ketika berbicara sebagai tamu kehormatan utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, ditayangkan secara daring, Kamis (3/9/2026).
Dalam perkembangannya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil mengonfirmasi Rusal bakal mengembangkan proyek pertambangan bauksit yang terintegrasi dengan pabrik pemurnian alumina.
Dengan begitu, Rusal dipastikan tidak akan membangun pabrik pengolahan atau smelter aluminium di Indonesia.
Bahlil menjelaskan proyek tersebut bakal digarap Rusal bersama perusahaan dalam negeri dan berlokasi di wilayah Kalimantan.
“Oh iya, itu dengan Rusal. Mereka akan membangun hilirisasi dari bauksit untuk menjadi alumina, dan itu di daerah Kalimantan,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (11/9/2026).
Di sisi lain, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian ESDM Cecep Mochammad Yasin mengungkapkan Rusal tengah menunggu penerbitan IUPmelalui jalur prioritas dalam rangka pengembangan hilirisasi bauksit terintegrasi menjadi alumina
Cecep menyatakan Rusal bakal menjadi salah satu perusahaan yang bakal mendapatkan persetujuan IUP secara prioritas, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 39/2025 tentang Perubahan Kedua atas PP No. 96/2021 mengenai Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).
Dia menyatakan penerbitan IUP tersebut masih menunggu sejumlah aturan turunan PP No. 39/2025 yang saat ini sedang direvisi oleh Ditjen Minerba.
“Rusal, ya setahu saya Rusal juga salah satu bagian yang menunggu terkait dengan kebijakan untuk mendapatkan IUP secara prioritas untuk hilirisasi ini. Namun, memang, secara aktualnya kita masih menunggu beberapa regulasi yang perlu disesuaikan,” kata Cecep kepada awak media usai agenda BIG Downstream Insight, Selasa (6/10/2026).
(azr/wdh)




























