Logo Bloomberg Technoz

“Kami benar-benar fokus untuk keluar dari siklus komoditas ini,” ujar CEO ExxonMobil Darren Woods, dalam sebuah diskusi dengan para analis.

“Kami tidak ingin terlalu euforia dan berkomitmen pada hal-hal yang menurut kami tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.”

Beban berat yang dirasakan pengendara saat mengisi bahan bakar minyak (BBM) justru mendatangkan keuntungan luar biasa bagi perusahaan-perusahaan minyak raksasa, sekaligus memicu ketidakpuasan di tengah persiapan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Partai Republik menghadapi pemilihan paruh waktu yang akan menentukan kendali atas Kongres.

Para pemilih di Amerika secara konsisten menyebut biaya hidup sebagai kekhawatiran utama, dengan tingginya harga bahan bakar mengubah wilayah-wilayah yang selama ini menjadi basis kuat Partai Republik—seperti Texas, Kansas, dan Alaska—menjadi medan pertempuran politik yang sengit.

Harga minyak internasional telah melonjak hampir 60% sejak AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari, sementara sektor penyulingan minyak kini menjadi titik hambatan (choke point) tambahan dalam rantai pasok energi global.

Konflik di Timur Tengah serta serangan Ukraina di wilayah Rusia telah melumpuhkan sekitar 10% kapasitas produksi bahan bakar dunia, sehingga memberikan keuntungan yang sangat besar bagi kilang-kilang yang masih tetap beroperasi.

Margin bisnis kilang memecahkan rekor historis./dok. Bloomberg

Divisi penyulingan ExxonMobil mencatatkan rekor laba sebesar US$9,05 miliar pada kuartal III-2026—hampir lima kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu—demikian menurut pernyataan yang dirilis pada Jumat.

Sementara itu, kilang-kilang milik Chevron meraup laba sebesar US$4,93 miliar; angka ini merupakan rekor tertinggi dan empat kali lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

Bagi BP, lebih dari separuh laba bersih yang disesuaikan (adjusted net income) senilai US$8,46 miliar berasal dari unit yang mencakup kegiatan penyulingan dan perdagangan minyak. Sebelumnya pada minggu yang sama, Shell dan Total juga melaporkan kinerja yang sangat impresif.

Saham ExxonMobil naik hingga 2,8% di New York, sementara saham Chevron naik 2,2%—sejalan dengan kenaikan harga minyak. Di London, saham BP menguat hingga 1,8%. Saham Shell dan Total juga mencatatkan kenaikan.

Keengganan para eksekutif untuk meningkatkan pembelian kembali saham (share buyback) “mungkin mencerminkan kekhawatiran akan persepsi publik terhadap aksi pembelian kembali saham dalam jumlah besar, di tengah krisis energi yang menuntut peningkatan investasi,” tulis analis RBC Capital Markets Biraj Borkhataria, dalam sebuah catatan.

Dalam sebuah kampanye di Texas pekan lalu, Trump menepis kekhawatiran mengenai harga bensin dan solar—yang rata-rata lebih tinggi selama masa jabatan keduanya dibandingkan dengan era pendahulunya, Joe Biden—dengan menyatakan bahwa harga-harga tersebut akan turun “dalam waktu dekat.”

Beberapa hari sebelumnya, dia memuji perusahaan minyak AS karena telah menghasilkan “keuntungan yang sangat besar” bagi negara; sebuah perubahan sikap yang kontras dibandingkan kritikannya pada musim panas lalu, di mana dia sempat menyebut perusahaan-perusahaan tersebut “meraup terlalu banyak uang.”

Namun, dengan konflik Iran yang telah memasuki bulan kesembilan, gangguan pada pasar energi global belum menunjukkan tanda-tanda mereda, meskipun kini lebih banyak kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Sejauh ini, pasar sangat bergantung pada pasokan dari cadangan strategis dan komersial. Mengingat cadangan penyangga tersebut kian menipis, volatilitas harga diperkirakan akan meningkat.

“Ekspor berkurang akibat konflik yang terjadi, dan terus terang, sektor bisnis produk energi kini memiliki lebih sedikit bantalan untuk meredam guncangan,” ujar Wakil Ketua Chevron Mark Nelson kepada para investor dan analis.

“Saya memperkirakan margin pada akhirnya akan kembali moderat seiring dengan pemulihan operasional kilang dan peningkatan arus ekspor, namun proses ini akan memakan waktu.”

Pengeluaran energi di AS makin tinggi./dok. Bloomberg

ExxonMobil, yang mengoperasikan sistem kilang terbesar di luar China, mencatatkan laba keseluruhan tertinggi keempat dalam sejarah 156 tahun perusahaan tersebut. Laba kuartal ketiga yang disesuaikan mencapai US$4,23 per saham, atau 10 sen lebih tinggi daripada estimasi rata-rata para analis.

ExxonMobil menaikkan dividen untuk tahun ke-44 secara berturut-turut dan berkomitmen untuk mempertahankan program pembelian kembali saham (buyback) senilai US$20 miliar per tahun.

Chief Financial Officer Neil Hansen menyatakan bahwa lonjakan laba ini bukanlah sekadar keuntungan tak terduga, melainkan imbalan atas upaya perusahaan dalam meningkatkan produksi di saat kebutuhan sedang tinggi-tingginya.

Sejak 2020—periode di mana banyak perusahaan pesaing justru menjual fasilitas pengolahan bahan bakar atau mengubahnya menjadi pabrik bahan bakar hayati (biofuel)—ExxonMobil telah berinvestasi secara besar-besaran, yang menghasilkan peningkatan produksi distilat sebesar 40% di wilayah Gulf Coast dibandingkan dengan 2019.

"Respons paling berarti yang dapat kami berikan sebagai perusahaan terhadap tingginya harga komoditas global saat ini adalah dengan mengerahkan segala cara yang tersedia untuk meningkatkan pasokan," ujar Hansen dalam sebuah wawancara.

Dia menambahkan ExxonMobil kini "menghadirkan lebih banyak pasokan diesel ke pasar di tengah kondisi yang sangat ketat saat ini."

Chevron juga mencatatkan laba kuartalan tertinggi keempat dalam sejarah perusahaan. Laba bersih kuartal ketiga sejumlah US$5,28 per saham melampaui estimasi rata-rata analis sebesar 35 sen.

Perusahaan mempertahankan program pembelian kembali saham senilai US$2,5 miliar untuk kuartal tersebut, yang merupakan batas bawah dari kisaran panduan setahun penuh.

Selama dua kuartal berturut-turut, para eksekutif Chevron mengalokasikan keuntungan tak terduga (windfall profit) terutama untuk pengurangan utang.

“Kami tidak bereaksi terhadap kenaikan maupun penurunan pasar; kami tidak mengubah strategi,” ujar Chief Financial Officer Eimear Bonner dalam sebuah wawancara.

“Untuk saat ini, kami tetap berpegang pada prioritas keuangan jangka panjang kami dan tidak melakukan perubahan apa pun.”

ExxonMobil, Chevron, dan BP memanfaatkan krisis energi saat ini untuk menegaskan pentingnya investasi berkelanjutan dalam peluang pertumbuhan minyak dan gas untuk dekade mendatang dan seterusnya.

Chevron berada di jalur yang tepat untuk memproduksi 300.000 barel per hari (bph) dari Venezuela pada akhir tahun ini—meningkat 20% dibandingkan dengan tahun sebelumnya—dan berencana melipatgandakan jumlah tersebut pada awal 2030-an.

Biaya produksi di sana tercatat kurang dari US$20 per barel, menjadikannya salah satu wilayah operasi minyak paling menguntungkan di dunia.

CEO Chevron Mike Wirth menyatakan negara-negara kaya sumber daya lainnya, seperti Irak, tengah memperbaiki ketentuan komersial guna mendorong pertumbuhan.

Sementara itu, ExxonMobil meningkatkan kepemilikannya dalam proyek LNG Rovuma di Mozambik menjadi 50% dan berencana untuk mengambil keputusan investasi final pada akhir tahun ini. Perusahaan tersebut juga melakukan investasi besar-besaran di sektor kilang.

Di sisi lain, BP tengah berfokus pada beberapa target eksplorasi berpotensi tinggi di Brasil dan Afrika Barat.

Meski demikian, Woods dari ExxonMobil menekankan agar proyek-proyek semacam itu dapat berhasil, kondisi investasi haruslah tepat; ia mencontohkan situasi di Venezuela.

“Kami yakin memiliki keunggulan di bidang tersebut, sehingga pada akhirnya kami akan berperan di sana,” kata Woods.

“Namun, hal ini akan memerlukan perubahan substansial terhadap cara-cara yang selama ini diterapkan di Venezuela.”

(bbn)

No more pages