Logo Bloomberg Technoz

BBM NONSUBSIDI

Harga Pertamax Ditahan, Pertamina Rawan Tanggung Selisih Rp2,3 T

Azura Yumna Ramadani Purnama
02 November 2026 09:20

Petugas mengisi BBM jenis Pertamax di SPBU Pertamina Rest Area Tol Tangerang-Jakarta KM 14, Senin (1/4/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Petugas mengisi BBM jenis Pertamax di SPBU Pertamina Rest Area Tol Tangerang-Jakarta KM 14, Senin (1/4/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Ekonom mengestimasikan PT Pertamina (Persero) harus menanggung selisih harga jual dan harga keekonomian bensin RON 92 atau Pertamax sekitar Rp1,3—Rp2,3 triliun dalam satu bulan, sebab harga Pertamax awal November 2026 ditahan di level Rp15.950/liter.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengalkulasikan harga keekonomian Pertamax pada November 2026 sudah menembus rentang Rp18.500—Rp20.500/liter, sehingga terdapat selisih sekitar Rp2.550—Rp4.550/liter yang berpotensi tidak tertutup oleh harga jual saat ini.

Dengan asumsi volume penjualan Pertamax sekitar 500 juta liter/bulan, Josua memperkirakan Pertamina harus menanggung selisih harga jual dengan harga keekonomian sekitar Rp1,3—Rp2,3 triliun dalam satu bulan.


“Potensi selisih penerimaan bruto mencapai sekitar Rp1,3—Rp2,3 triliun dalam satu bulan. Namun, angka tersebut bukan berarti Pertamina secara otomatis mencatatkan kerugian bersih sebesar itu,” kata Josua kepada Bloomberg Technoz, Senin (2/11/2026).

Pengendara mengantre mengisi bbm Pertamax di SPBU Pertamina, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bukan Kerugian