Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, proses akuisisi dilakukan ketika TLCC sedang mengalami kerugian dan kesulitan keuangan. Kondisi pasar semen Vietnam juga tengah menghadapi kelebihan pasokan atau oversupply.

Risiko penutupan perusahaan akibat persoalan lingkungan turut menjadi faktor yang tidak dipertimbangkan dalam proses akuisisi.

BPK juga mencatat Semen Indonesia telah melakukan penghapusbukuan atau write off sebesar 100% atas selisih nilai akuisisi dengan nilai buku pada 2018. Kondisi ini dinilai mengindikasikan harga transaksi akuisisi telah ditetapkan terlalu tinggi.

"Akibatnya, tujuan akuisisi TLCC untuk melakukan ekspansi regional di Asia Tenggara dan target payback periode di tahun 2020 tidak tercapai serta keberlangsungan usaha (going-concern) TLCC diragukan sebagai entitas bisnis."

Atas temuan tersebut, BPK merekomendasikan Dewan Komisaris Semen Indonesia melaporkan kronologi dan persoalan akuisisi TLCC serta Holcim Indonesia kepada Pemegang Saham Seri A.

BPK juga meminta pembentukan tim investigasi untuk memastikan keputusan akuisisi TLCC telah sesuai dengan ketentuan. Persoalan Semen Indonesia tidak hanya terbatas pada akuisisi perusahaan di Vietnam.

BPK turut menemukan penurunan kinerja keuangan dan inefisiensi setelah perusahaan menerapkan sentralisasi fungsi korporasi pada holding.

"Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa PT SI, subholding dan anak perusahaan mengalami penurunan kinerja keuangan dan menciptakan inefisiensi pascasentralisasi fungsi korporasi pada holding."

BPK mengungkapkan beban pokok pendapatan perusahaan meningkat, sementara profitabilitas mengalami penurunan akibat ketidakmampuan menekan inefisiensi.
Arus kas perusahaan juga mengalami penurunan dan belum mampu membiayai seluruh biaya operasional.

Bahkan, profitabilitas Semen Indonesia tercatat berada di bawah kompetitor yang memiliki pangsa pasar lebih kecil.

Penambahan kapasitas produksi melalui akuisisi dan investasi juga tidak menghasilkan kinerja optimal. BPK menemukan adanya aset bermasalah berupa kapasitas produksi menganggur atau idle capacity yang tidak menghasilkan pendapatan.

"Hal tersebut mengakibatkan di antaranya perusahaan kesulitan membayar kewajiban tanpa didukung pembiayaan eksternal; market share menurun dan tidak dapat berkompetisi dengan pesaing; serta potensi menurunnya kepercayaan investor dan kreditur yang dapat memengaruhi pendanaan yang dibutuhkan oleh perusahaan."

BPK juga menyoroti belum optimalnya standardisasi proses produksi, utilisasi pabrik, dan efisiensi energi di lingkungan Semen Indonesia. Pemeriksaan menemukan belum adanya standardisasi proses produksi berdasarkan praktik terbaik masing-masing perusahaan operasional.

Selain itu, produktivitas semen pada Semen Padang dan Group Head of Plant Operation mengalami penurunan sebagai dampak penerapan kebijakan least cost to serve.

Semen Indonesia juga dinilai berpotensi tidak mencapai target thermal substitution rate sebesar 20,18% pada 2029.

Secara keseluruhan, BPK mengungkap 14 temuan dalam pemeriksaan kinerja Semen Indonesia pascasentralisasi fungsi korporasi.

"Hasil pemeriksaan kinerja PT SI pascasentralisasi fungsi korporasi mengungkap 14 temuan yang memuat 2 permasalahan ketidakhematan, 2 permasalahan ketidakefisienan, dan 16 permasalahan ketidakefektifan."

BPK meminta Dewan Komisaris Semen Indonesia meningkatkan pengawasan terhadap kinerja keuangan perusahaan, sementara direksi diminta menyusun langkah pengendalian beban pokok pendapatan, melakukan efisiensi biaya produksi, serta memperbaiki pengelolaan arus kas.

Direksi Semen Indonesia juga diminta menyusun langkah penyelamatan keuangan TLCC dan melaporkannya kepada Dewan Komisaris.

(ain)

No more pages