
| Penulis: Dr. Pardomuan Sihombing, MSM
Dr. Pardomuan Sihombing, MSM adalah seorang Praktisi Pasar Modal dan Pengajar pada Program Studi MM Universitas Mercu Buana |
Apakah perusahaan dengan skor ESG yang baik otomatis menjadi investasi yang lebih baik?
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Jika perusahaan lebih ramah lingkungan, memperlakukan pekerja dengan baik, dan memiliki tata kelola yang kuat, secara intuitif perusahaan tersebut seharusnya memiliki risiko lebih rendah dan nilai lebih tinggi. Namun pasar modal bekerja dengan logika yang lebih rumit. Perusahaan yang baik belum tentu merupakan saham yang baik pada setiap harga. Dan saham berlabel ESG belum tentu memberikan return lebih tinggi.
Di sinilah investasi berkelanjutan perlu dibaca secara lebih dewasa. ESG bukan sekadar persoalan memilih perusahaan yang “baik”, melainkan memahami bagaimana risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola dapat memengaruhi arus kas, probabilitas kegagalan, risk premium, biaya modal, dan pada akhirnya valuasi.
Indonesia sedang bergerak ke arah itu. Pada 2026, Otoritas Jasa Keuangan menerbitkan Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) Versi 3. OJK menyebut pengembangan tersebut telah melengkapi standar klasifikasi aktivitas ekonomi berkelanjutan untuk seluruh sektor yang terkait dengan Nationally Determined Contribution (NDC). TKBI dirancang sebagai panduan untuk mengarahkan alokasi modal dan pembiayaan menuju aktivitas yang mendukung transisi menuju ekonomi berkelanjutan.
Baca Juga
Pada April 2026, OJK juga menerbitkan Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia 2026–2030. Artinya, sustainability perlahan bergerak dari pinggiran menuju arsitektur utama pasar modal Indonesia.
Tetapi pertanyaan bagi investor tetap sama: apakah sustainability menciptakan value?
ESG Bukan Sekadar Soal Menjadi “Hijau”
Kesalahan pertama dalam membaca investasi berkelanjutan adalah menyamakan ESG dengan investasi lingkungan.
Huruf E memang berbicara mengenai environment: emisi karbon, energi, limbah, penggunaan air, dan risiko perubahan iklim. Tetapi S mencakup hubungan dengan tenaga kerja, konsumen, masyarakat, keselamatan, dan rantai pasok. Sementara G menyentuh sesuatu yang sangat dekat dengan investor: kualitas tata kelola, struktur pengawasan, transparansi, konflik kepentingan, dan perlindungan pemegang saham.
BEI sendiri telah membangun ekosistem indeks yang semakin beragam. IDX ESG Leaders, misalnya, berisi saham dengan penilaian ESG yang baik, kontroversi yang tidak signifikan, serta mempertimbangkan likuiditas dan kinerja keuangan. Selain itu terdapat SRI-KEHATI, ESG Sector Leaders IDX KEHATI, ESG Quality 45 IDX KEHATI, hingga IDX LQ45 Low Carbon Leaders. Metodologinya tidak identik; IDX ESG Leaders bahkan menggunakan pendekatan ESG tilt factor.
BEI juga bekerja sama dengan Morningstar Sustainalytics untuk menyediakan penilaian risiko ESG perusahaan tercatat. Penilaian tersebut pada dasarnya mencoba menangkap ketahanan perusahaan terhadap risiko ESG yang secara finansial material.
Perbedaan metodologi itu penting. Saham yang masuk indeks ESG bukan berarti bebas risiko. Lebih penting lagi, perusahaan dengan ESG tinggi tidak otomatis memberikan return saham tinggi.
Fundamental menjelaskan perusahaan. Harga mencerminkan ekspektasi. Misalkan sebuah perusahaan memiliki governance sangat baik, emisi rendah, profitabilitas tinggi, dan neraca sehat. Jika seluruh kualitas tersebut telah diketahui pasar dan saham diperdagangkan pada valuasi yang sangat mahal, expected return investor justru dapat lebih rendah.
Sebaliknya, perusahaan dengan risiko lebih tinggi dapat menawarkan expected return lebih tinggi jika risiko tersebut telah tercermin dalam harga.
Inilah risk-return trade-off yang sering terlupakan ketika ESG diperlakukan sebagai label moral, bukan variabel finansial.
Dari ESG menuju Cost of Capital
Mekanisme ekonomi terpenting dari sustainability sebenarnya tidak berhenti pada skor ESG. Jalurnya adalah risiko → required return → cost of capital → valuation.
Bayangkan dua perusahaan dengan proyeksi arus kas yang sama. Perusahaan pertama memiliki tata kelola kuat, risiko litigasi rendah, emisi terkendali, hubungan tenaga kerja baik, dan transparansi tinggi. Perusahaan kedua menghadapi potensi denda lingkungan, konflik dengan masyarakat, governance lemah, serta ketidakpastian regulasi.
Investor rasional kemungkinan meminta risk premium lebih tinggi untuk perusahaan kedua.
Secara sederhana: ESG risk naik → perceived risk naik → required return naik → cost of capital naik → present value arus kas turun → valuation turun.
Sebaliknya, jika praktik sustainability benar-benar menurunkan risiko fundamental dan meningkatkan kepercayaan investor serta kreditur, biaya modal berpotensi turun. Bahkan penurunan kecil pada cost of capital dapat memiliki dampak besar terhadap valuasi perusahaan dengan arus kas jangka panjang.
Namun bukti empiris Indonesia belum sepenuhnya satu arah dan justru di situlah persoalannya menjadi menarik.
Sebuah penelitian terhadap 56 perusahaan manufaktur BEI periode 2021–2024 menemukan bahwa pengungkapan sustainability belum menunjukkan pengaruh signifikan terhadap cost of capital. Peneliti menginterpretasikan hasil tersebut sebagai indikasi bahwa informasi ESG belum sepenuhnya mengubah perilaku investor dan kreditur.
Studi lain terhadap perusahaan BEI periode 2016–2023 justru menemukan hubungan negatif yang signifikan antara kinerja ESG dan biaya modal.
Penelitian kawasan Asia Tenggara juga menemukan hasil yang lebih bernuansa: praktik ESG dapat memengaruhi biaya utang, sementara pengaruhnya terhadap cost of equity tidak selalu terlihat.
Angkanya boleh berbeda. Pesannya relatif sama: pasar belum tentu memberi harga yang sama terhadap setiap dimensi ESG.
Governance yang mengurangi risiko fraud mungkin lebih cepat diterjemahkan investor menjadi risk premium. Pengurangan emisi yang manfaat ekonominya baru muncul sepuluh tahun lagi mungkin dihargai secara berbeda. Program sosial yang besar pun belum tentu menciptakan value apabila hanya meningkatkan biaya tanpa memperkuat produktivitas, reputasi, atau license to operate.
Karena itu, investor seharusnya tidak bertanya, “Apakah perusahaan ini ESG?”
Pertanyaan yang lebih berguna adalah: risiko apa yang berhasil dikurangi oleh ESG, dan berapa nilai ekonominya?
Paradoks Sustainable Investing
Jika perusahaan dengan ESG yang lebih baik dianggap lebih aman, required return investor seharusnya turun. Ketika discount rate turun, valuasi perusahaan dapat meningkat.
Tetapi required return yang lebih rendah secara konseptual juga berarti investor tidak selalu dapat mengharapkan return masa depan yang lebih tinggi.
Dengan kata lain, keberhasilan ESG dapat menciptakan keuntungan valuasi ketika pasar melakukan repricing, tetapi setelah risiko tersebut sepenuhnya dihargai, premi return yang tersedia dapat mengecil.
ESG yang baik dapat meningkatkan value tanpa harus selalu meningkatkan expected return.
Perbedaan antara price, value, dan return inilah yang sering hilang dalam perdebatan investasi berkelanjutan.
Karena itu investor juga perlu berhati-hati terhadap green premium. Ketika terlalu banyak modal mengejar kelompok saham yang sama hanya karena label sustainability, harga dapat naik lebih cepat daripada fundamental. ESG yang awalnya berfungsi mengurangi risiko justru dapat menciptakan valuation risk.
Sebaliknya, perusahaan yang sedang melakukan transisi mungkin belum memiliki skor ESG terbaik hari ini, tetapi dapat menawarkan peluang investasi menarik apabila perubahan model bisnisnya belum sepenuhnya dihargai pasar.
Pasar tidak hanya membeli sustainability hari ini. Pasar membeli ekspektasi sustainability esok.
Dari Disclosure menuju Capital Allocation
Bagi Indonesia, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menambah laporan keberlanjutan.
TKBI Versi 3 penting karena mencoba membangun bahasa klasifikasi yang lebih konsisten untuk menentukan aktivitas ekonomi yang dapat dikategorikan berkelanjutan. OJK menyatakan TKBI disusun dengan prinsip scientific and credible, interoperabilitas, kepentingan nasional, dan inklusivitas serta diarahkan menjadi referensi bagi alokasi modal berkelanjutan.
Di pasar obligasi, infrastrukturnya juga berkembang. POJK 18/2023 memperluas instrumen dari sebelumnya berfokus pada green bond menjadi mencakup green sukuk, social bonds/sukuk, sustainability bonds/sukuk, sukuk wakaf, dan sustainability-linked bonds. Regulasi tersebut juga mengatur pelaporan, pihak independen, dan external review.
Arah kebijakannya tepat, tetapi keberhasilan sesungguhnya baru terjadi ketika sustainability memengaruhi keputusan alokasi modal.
Perusahaan yang mengelola risiko lingkungan, sosial, dan governance dengan baik semestinya memperoleh akses modal lebih luas dan, ketika risikonya memang lebih rendah, biaya modal yang lebih kompetitif. Sebaliknya, perusahaan yang menimbulkan externalities besar dan menyimpan risiko transisi seharusnya menghadapi harga modal yang mencerminkan risiko tersebut.
Di titik itulah pasar modal menjalankan fungsi sustainability yang sebenarnya: bukan menentukan perusahaan mana yang terlihat paling hijau, tetapi memastikan modal memperoleh harga sesuai risiko ekonomi yang sesungguhnya.
Bagi investor, konsekuensinya juga jelas. ESG sebaiknya tidak menggantikan analisis fundamental, valuasi, diversifikasi, dan margin of safety. ESG justru harus memperkaya semuanya—dengan memasukkan risiko yang sebelumnya tidak terlihat dalam laporan laba rugi.
Jadi, apakah perusahaan dengan ESG yang baik merupakan investasi yang lebih baik? Belum tentu.
Tetapi perusahaan yang mampu mengelola risiko keberlanjutan dengan lebih baik berpotensi memiliki arus kas yang lebih tahan, risiko kejutan yang lebih rendah, dan biaya modal yang lebih kompetitif. Investor tetap harus menentukan apakah semua keunggulan itu sudah tercermin dalam harga.
Sustainability menjelaskan kualitas sebuah bisnis. Valuation menentukan harga yang kita bayar. Dan return lahir dari perbedaan antara keduanya.
Itulah sebabnya masa depan investasi berkelanjutan Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak saham memperoleh label ESG, melainkan oleh seberapa baik pasar mampu menerjemahkan sustainability menjadi risk, cost of capital, dan value.
DISCLAIMER
Opini yang disampaikan dalam artikel ini sepenuhnya merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap, kebijakan, atau pandangan resmi dari Bloomberg Technoz. Kami tidak bertanggung jawab atas keakuratan, kelengkapan, atau validitas informasi yang disajikan dalam opini ini.
Setiap pembaca diharapkan untuk melakukan verifikasi dan mempertimbangkan berbagai sumber sebelum mengambil kesimpulan atau tindakan berdasarkan opini yang disampaikan. Jika terdapat keberatan atau klarifikasi terkait isi opini ini, silakan hubungi redaksi melalui contact@bloombergtechnoz.com
Tentang Z-ZoneZ-Zone merupakan kanal opini di Bloomberg Technoz yang menghadirkan beragam pandangan dari publik, akademisi, praktisi, hingga profesional lintas sektor. Di sini, penulis bisa berbagi ide, analisis, dan perspektif unikmu terhadap isu ekonomi, bisnis, teknologi, dan sosial. Punya opini menarik? |
(psh)





















