Logo Bloomberg Technoz

Runtuhnya Bursa Saham dan Gejala Silent Recession

Redaksi
13 October 2026 11:21

Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (22/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (22/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Agak sulit untuk menyebut Indonesia sedang baik-baik saja. Di pasar keuangan bahkan sampai ke level akar rumput atau rumah tangga, tekanan yang dirasakan sudah begitu berat.

Bursa saham Tanah Air mengalami koreksi yang begitu dalam. Per kemarin, Senin (12/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah ambruk 31,35 sepanjang tahun ini atau year-to-date/ytd. 

Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menjadi indeks saham dengan koreksi paling parah di dunia sepanjang 2026. Di level Asia Tenggara, bahkan indeks SETI (Thailand) berhasil melesat 24,77% dan Straits Times (Singapura) terdongkrak 16,56%.

Perkembangan Indeks Saham Asia (Sumber: BEI)

Saat ini, satu hal yang paling menjadi perhatian investor adalah soal kajian dari penyedia indeks global seperti Morgan Stanley. Indonesia masih mengalami pembekuan (freeze) oleh MSCI.

Hal yang menjadi perhatian MSCI adalah transparansi dalam pembentukan harga saham di BEI. Sejumlah saham memiliki kepemilikan yang terkonsentrasi (High Shareholding Concentration/HSC) sehingga harga yang terbentuk dipandang tidak mencerminkan transaksi sebenarnya/riil.