Logo Bloomberg Technoz

Penyebab IHSG Ditutup Melemah 2% hingga Drop di Bawah 6.000

Muhammad Julian Fadli
12 October 2026 17:55

Karyawan di depan layar indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (24/3/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan di depan layar indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (24/3/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,59% di posisi 5.936,14 pada perdagangan Senin (12/10/2026), amblasnya saham–saham big caps jadi sebab, terutama saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

Sepanjang hari Indeks Komposit terus–menerus terjerembab di tren pelemahan dengan penurunan yang bertambah dalam, padahal pagi tadi sempat menguat. Adapun rentang perdagangan terjadi pada area level 6.128,72 sampai dengan terendah 5.917.

IHSG Penutupan Sesi II pada Senin 12 Oktober 2026 (Bloomberg)

Adapun tren bearish IHSG disebabkan oleh sentimen negatif dari ketidakpastian di pasar global yang masih tinggi, harga minyak Brent yang masih ‘mahal’ bertahan di atas US$105 per barel, kekhawatiran akan potensi capital outflow di pasar obligasi Indonesia, serta berbagai isu mengenai MSCI, papar Phintraco Sekuritas.


Sentimen pasar turut dibebani oleh pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 0,11% di level Rp17.903/US$, seiring meningkatnya kehati-hatian investor di tengah berlanjutnya penguatan indeks dolar AS hingga yield US Treasury bertahan di level tinggi 5,238% tenor 10 tahun, sebab pelaku pasar memprediksi The Fed akan kembali mengerek suku bunga acuan di sisa tahun ini.

Secara analisis teknikal, terjadi pelebaran histogram negatif MACD dan Stochastic RSI membentuk death cross di area pivot. Sehingga IHSG diprediksi menguji level 5.800–5.900 pada perdagangan selanjutnya. Senada, Panin Sekuritas menyebut berkemungkinan melanjutkan pelemahan menuju support di level 5.840. angka ini juga bertepatan dengan Lower Parallel Channel.

Kenaikan Harga Minyak Brent Tembus US$105/Barel (Bloomberg)