Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Ditutup Menguat di Rp17.896/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
13 October 2026 15:28

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan Selasa (13/10/2026) dengan penguatan terbatas 0,04% ke Rp17.896/US$, di tengah tekanan dolar Amerika Serikat (AS) dengan indeks dolar bertahan di level 102,29. 

Sebagian mata uang Asia bergerak melemah sore ini, seperti dolar Taiwan tergerus 0,73%, won Korea Selatan 0,57%, peso Filipina 0,07%, ringgit Malaysia 0,04%, yuan China dan yuan offshore masing-masing 0,01%. Sebaliknya, sebagian berhasil menguat seperti rupee India, yen Jepang, dan rupian juga dolar Singapura yang lebih terbatas. 

Pergerakan mata uang Asia, Selasa (13/10/2026). (Bloomberg)

Penguatan rupiah yang sangat terbatas itu ditopang oleh pergerakan yield di pasar surat utang. Sebagian tenor mengalami penurunan yield, terutama tenor pendek-menengah. Tenor 1 tahun, misalnya, yield turun 4,4 basis poin (bps) jadi 6,67%, disusul tenor 2 tahun turun 1 bps jadi 6,78%, dan tenor 3 tahun turun 1,4 bps jadi 6,91%. Begitu juga tenor acuan 10 tahun turun 1,9 bps jadi 7,19%. 


Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga terlihat melakukan intervensi secara intensif dengan menjalankan operasi moneter lewat beberapa instrumen sekaligus.

Melansir laman BI, BI menjual dolar AS dengan transaksi swap senilai US$540 juta, terdiri dari tenor 1 bulan sebesar US$145 juta, 3 bulan US$150 juta, 6 bulan US$50 juta, dan 12 bulan US$195 juta. Lewat transaksi ini, BI memasok dolar AS kepada perbankan dan membantu dalam memenuhi kebutuhan dolar perbankan dan mengurangi tekanan pembelian dolar AS di pasar spot.