Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, Josua menyebut bahwa tekanan terbesar justru terlihat dari kenaikan biaya dana yang lebih cepat dibandingkan kenaikan suku bunga kredit.

Pada Agustus, suku bunga tertimbang dana pihak ketiga rupiah naik sekitar 7 basis poin secara bulanan, terutama karena suku bunga deposito naik sekitar 10 basis poin, sedangkan suku bunga kredit hanya naik sekitar 3 basis poin yang dapat dibaca sebagai tanggungan bank terhadap biaya pendanaan yang lebih besar ketimbang pendapatan kredit.

“Ini terjadi karena persaingan memperebutkan dana masyarakat semakin ketat, terutama ketika bank harus bersaing bukan hanya dengan bank lain, tetapi juga dengan surat berharga negara dan instrumen moneter yang menawarkan imbal hasil relatif menarik,” kata Josua.

Menjelang akhir tahun, persaingan deposito juga biasanya meningkat karena bank mengejar kebutuhan likuiditas dan target pertumbuhan neraca.

Selain itu, perubahan komposisi kredit ikut menekan margin. Pertumbuhan kredit saat ini sangat kuat pada kredit investasi dan korporasi. Kredit investasi tumbuh sekitar 25%, sementara kredit korporasi tumbuh lebih dari 22%.

Periode

NIM (%)

Des-24

4,62

Aug-25

4,58

Des-25

4,56

Jul-26

4,32

Aug-26

4,31

Penurunan NIM Perbankan

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, ini tentu positif karena mendukung pembentukan kapasitas produksi. Namun kredit korporasi besar biasanya memiliki margin yang lebih tipis dibandingkan kredit ritel, konsumsi, atau usaha kecil karena nasabah korporasi memiliki daya tawar yang lebih tinggi dan akses terhadap alternatif pembiayaan.

“Jadi, meskipun volume kredit meningkat pesat, pertumbuhan pendapatan bunga tidak otomatis meningkat dengan kecepatan yang sama,” katanya.

Tekanan margin juga dipengaruhi oleh siklus suku bunga yang tinggi dan penyesuaian yang tidak simetris antara aset dan kewajiban bank.

Deposito umumnya dapat menyesuaikan lebih cepat ketika suku bunga naik, sedangkan kredit tidak selalu dapat dinaikkan dengan kecepatan yang sama karena bank harus mempertimbangkan kemampuan bayar debitur, risiko kredit, persaingan, dan kebutuhan menjaga pertumbuhan pembiayaan.

“Jika suku bunga kredit dinaikkan terlalu agresif, bank berisiko justru menghadapi perlambatan permintaan kredit dan peningkatan kredit bermasalah. Jadi terdapat pertukaran yang harus dikelola: mempertahankan margin atau mempertahankan kualitas serta pertumbuhan kredit,” kata Josua.

NIM Diproyeksi Melambat

Josua melihat untuk beberapa bulan ke depan, kinerja NIM masih cenderung berada dalam tekanan, meski kecepatannya kemungkinan mulai melandai selama BI Rate tetap di 5,75%, suku bunga global tinggi, rupiah masih bergejolak, dan pertumbuhan kredit lebih cepat daripada pertumbuhan dana pihak ketiga, biaya dana belum akan turun cepat.

“Menjelang akhir 2026, saya memperkirakan NIM industri kemungkinan bergerak di kisaran sekitar 4,2–4,4%, sehingga belum kembali ke tingkat tahun sebelumnya,” kata Josua.

Risiko penurunan lebih lanjut terbuka apabila BI harus kembali menaikkan suku bunga atau persaingan deposito semakin agresif.

Sebaliknya, margin dapat mulai membaik pada 2027 apabila tekanan nilai tukar mereda, pertumbuhan dana pihak ketiga menguat, suku bunga deposito mulai turun, dan tidak diperlukan pengetatan moneter tambahan.

Menurut Josua, solusinya bukan sekadar menaikkan suku bunga kredit. Bank perlu memperbesar porsi dana murah melalui penguatan transaksi, giro dan tabungan, memperbaiki penetapan harga kredit berdasarkan risiko, serta mendorong pertumbuhan kredit pada sektor yang produktif tetapi memberikan pengembalian yang memadai.

Dari sisi kebijakan, stabilitas likuiditas menjadi sangat penting agar persaingan penghimpunan dana tidak berubah menjadi perang suku bunga yang justru menggerus margin seluruh industri.

“Jadi, menurut saya, penurunan margin saat ini lebih tepat dibaca sebagai konsekuensi dari biaya dana yang naik lebih cepat daripada imbal hasil kredit, perubahan komposisi kredit, persaingan likuiditas, serta strategi bank menahan kenaikan bunga kredit demi menjaga kualitas debitur dan pertumbuhan ekonomi, bukan semata-mata akibat satu faktor saja,” kata Josua.

(ell)

No more pages