Logo Bloomberg Technoz

Kredit Nganggur Tembus Rp2.548 T, Ekonom Sorot Risiko Dunia Usaha

Pramesti Regita Cindy
28 September 2026 11:10

Rupiah. dok: Bloomberg
Rupiah. dok: Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kalangan ekonom menilai tingginya plafon kredit yang belum ditarik atau atau undisbursed loan perbankan tidak semata-mata disebabkan oleh bank yang lebih memilih menempatkan likuiditas pada instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan persoalan undisbursed loan ini juga perlu diperhatikan dari sisi permintaan kredit yang juga masih lemah. Sebab, meski standar penyaluran kredit perbankan telah dilonggarkan, pelaku usaha belum agresif memanfaatkan fasilitas kredit yang tersedia.

"Jadi ya akibatnya memang walaupun diberi insentif misalnya untuk mengarahkan ke kredit, tapi kalau misalnya dari sisi permintaan kreditnya masih lesu ya. Sebenernya mereka sudah diberikan platform kan, terserah mau diambil apa enggak," kata David dihubungi Bloomberg Technoz, Senin (28/9/2026).


"Masalahnya mungkin akan ditransmisikan juga mungkin ke biaya kredit juga kalau misalnya ada disinsentif ya dari otoritas, ya bisa saja [di satu sisi] diberikan disinsentif buat mereka yang diberikan plafon tapi belum dipakai, itu bisa juga," sambungnya.

Di sisi lain faktor pelaku usaha masih menghadapi sejumlah ketidakpastian, yang menurutnya membuat mereka berhati-hati mengambil keputusan ekspansi. Seperti faktor eksternal antara lain gejolak geopolitik, dampaknya terhadap harga minyak, serta pelemahan nilai tukar.