"Kata 'menguat' ini kita ingin ada komitmen. Nah kalau misalnya tidak dicantumkan kata menguat, apa yang bisa meyakinkan kita bahwa BI memang melakukan best effort yang luar biasa?" tekannya.
Menjawab hal tersebut, Gubernur BI Destry Damayanti lantas menjelaskan berbagai kebijakan yang ditempuh bank sentral pada akhirnya memang diarahkan untuk memperkuat rupiah.
Dia menyebut kebijakan tersebut mencakup pengaturan suku bunga atau BI-Rate, diskon biaya lindung (hedging cost), pendalaman pasar keuangan, hingga pengembangan transaksi valuta asing dan Local Currency Transaction (LCT).
"Jadi tanpa dikasih tahu distated, tapi itu kan it goes without saying, apa yang kami lakukan itu sebenarnya untuk memperkuat rupiah," tegas Destry menjawab Dolfie.
Sehingga ia menekankan penguatan rupiah harus sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi. Jika fundamental ekonomi tidak cukup kuat, penguatan rupiah dinilai tidak akan berkelanjutan.
Destry juga mengatakan tekanan terhadap rupiah dapat berasal dari faktor yang berada di luar kendali BI. Karena itu, menurutnya, kondisi nilai tukar tidak bisa hanya dilihat dari kebijakan bank sentral.
"Jadi upaya yang kami lakukan selama ini sebenarnya iya memang untuk memperkuat rupiah, dan Inovasi-inovasi akan terus kita lakukan."
Sebagai catatan, rupiah menutup perdagangan pasar spot Selasa (29/9/2026) dengan stagnasi, berada di posisi yang sama dengan posisi penutupan kemarin di Rp17.975/US$.
Sepanjang perdagangan, volatilitas rupiah meninggi dipicu oleh tekanan eksternal dari kenaikan harga minyak mentah ke atas US$106/barel dan kenaikan yield US Treasury ke 5,21% yang menyebabkan aksi sell-off di pasar surat utang global, termasuk di pasar Surat Utang Negara (SUN).
Di pasar obligasi domestik, yield obligasi tenor 10 tahun tercatat naik 8,1 basis poin (bps) ke 7,22%, tertinggi dalam enam pekan terakhir. Sementara yield obligasi tenor 5 tahun dan 15 tahun sama-sama melonjak 7,5 bps.
Begitu juga dengan yield 4 tahun naik 4,2 bps ke 7,05%, sedangkan tenor 9 tahun meningkat 3,5 bps jadi 7,19%. Di tenor pendek kenaikan yield juga terjadi untuk tenor 3 tahun yang terangkat sebesar 2,4 bps.
Aksi jual di pasar obligasi juga dipicu oleh ekspektasi adanya kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) setidaknya satu kali lagi sebesar 25 bps. Pelaku pasar memperkirakan adanya empat kali kenaikan masing-masing 25 bps sampai pertengahan 2027.
(lav)



























