Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Sentuh Rp18 Ribu/US$, BI Sebut Tekanan Global Jadi Pemicu

Redaksi
29 September 2026 11:28

Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menyentuh level psikologis Rp18.000/US$ di perdagangan pasar spot pada Selasa (29/9/2026) pukul 10:15 WIB, saat tekanan eksternal kian persisten bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran akan inflasi akibat kenaikan harga minyak mentah.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyebut bahwa pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas USD108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.

“Hal ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut, sehingga yield UST tenor 10 tahun kembali naik ke level 5,23%, tertinggi sejak 2007,” kata Erwin dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9/2026).


Erwin juga menyebut bahwa tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi.

Dalam rilisnya, BI juga menyebut bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah intervensi diantaranya melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif.