Saham Asia melemah 0,2%, dipimpin oleh penurunan di Korea Selatan dan Jepang. Pelemahan tersebut terjadi setelah indeks S&P 500 menghapus seluruh kenaikannya sepanjang bulan ini, sementara Nasdaq 100 turun 1,1%.
Tingginya harga minyak semakin menekan pasar obligasi global karena mempertahankan risiko inflasi dan memperumit prospek suku bunga. Di AS, aktivitas bisnis yang menguat serta kekhawatiran terhadap utang pemerintah turut memperburuk aksi jual obligasi pemerintah AS. Pelemahan tersebut menjadi yang terbesar sejak Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif pada April 2025 yang mengguncang pasar.
“Pasar secara keseluruhan belum mampu mencatatkan penguatan yang berarti karena kenaikan imbal hasil obligasi dan harga minyak,” kata Chris Larkin dari E*Trade Morgan Stanley. “Dengan The Fed yang berfokus pada pengendalian inflasi sebagai salah satu mandatnya, data pasar tenaga kerja yang dirilis pekan ini kemungkinan tidak akan menjadi perhatian utama dibandingkan suku bunga dan energi, kecuali jika hasilnya jauh berbeda dari perkiraan.”
Iran dan AS masih memiliki perbedaan pandangan yang besar terkait gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Teheran tetap berpegang pada proposal yang sebelumnya telah ditolak Trump. Trump juga membantah laporan Axios yang menyebut dirinya bersedia memberikan keringanan sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas “konsesi konkret terkait program nuklir”.
Sejumlah pejabat Iran juga secara tertutup menyatakan pesimistis terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang, menurut sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
“Perkiraan kami tetap bahwa konflik ini akan terus membayangi pasar dalam waktu yang dapat diperkirakan, sementara perekonomian global akan terus menyesuaikan diri dengan kenyataan akibat gangguan pasokan,” kata Ian Lyngen dari BMO Capital Markets.
Investor juga akan mencermati serangkaian data ekonomi AS yang padat sepanjang pekan ini untuk menilai apakah perekonomian masih cukup kuat untuk menopang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh The Fed. Data kepercayaan konsumen dan laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) Agustus akan dirilis pada Selasa. Selanjutnya, data belanja konsumen dan inflasi akan diumumkan sebelum laporan ketenagakerjaan pada Jumat.
“Jika ketahanan ekonomi dan permintaan investasi tetap terjaga, masih ada ruang bagi imbal hasil obligasi untuk meningkat lebih lanjut,” kata Seema Shah dari Principal Asset Management.
Sejumlah Pergerakan Utama di Pasar
Saham
- Kontrak berjangka S&P 500 relatif stagnan pada pukul 09.02 waktu Tokyo.
- Kontrak berjangka Hang Seng relatif stagnan.
- Indeks Topix Jepang turun 1%.
- Indeks S&P/ASX 200 Australia relatif stagnan.
- Kontrak berjangka Euro Stoxx 50 naik 0,1%.
Mata Uang
- Indeks Bloomberg Dollar Spot tidak berubah.
- Euro relatif stagnan di level US$1,1369.
- Yen Jepang relatif stagnan di level 157,37 per dolar AS.
- Yuan offshore relatif stagnan di level 6,7093 per dolar AS.
- Dolar Australia relatif stagnan di level US$0,7013.
Mata Uang Kripto
- Bitcoin relatif stagnan di level US$83.486,92.
- Ether naik 0,3% menjadi US$2.689,05.
Obligasi
- Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun relatif stagnan di level 5,23%.
- Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun naik 1 basis poin menjadi 3,095%.
- Imbal hasil obligasi pemerintah Australia bertenor 10 tahun relatif stagnan di level 5,41%.
Komoditas
- Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,8% menjadi US$93,35 per barel.
- Harga emas di pasar spot naik 0,3% menjadi US$4.126,80 per ons.
Artikel ini dibuat dengan bantuan Bloomberg Automation.
(bbn)




























