Bursa Asia Terkoreksi Imbas Lonjakan Harga Minyak Global
News
29 September 2026 08:30

Toby Alder dan Anand Krishnamoorthy - Bloomberg News
Bloomberg, Pasar obligasi Asia mengikuti pelemahan obligasi pemerintah AS atau US Treasury seiring tingginya harga minyak akibat ketegangan AS-Iran yang kembali memicu kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed).
Obligasi pemerintah Selandia Baru dan Jepang sedikit melemah, sementara obligasi Australia cenderung stagnan menjelang pengumuman kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa (29/9). Pergerakan tersebut terjadi setelah aksi jual besar-besaran obligasi pemerintah AS mendorong imbal hasilnya ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Sebelumnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun sebagai acuan sempat melonjak hingga 11 basis poin menjadi 5,27% pada perdagangan di New York. Angka tersebut merupakan level tertinggi dalam 19 tahun terakhir sebelum kenaikannya berkurang. Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun melonjak menjadi 5,55%. Imbal hasil obligasi bertenor lebih pendek juga meningkat seiring investor bersiap menghadapi kemungkinan The Fed kembali memperketat kebijakan moneter untuk menekan inflasi.
Sentimen pasar turut tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 0,8% menjadi US$106,11 per barel, seiring memudarnya optimisme terhadap kemungkinan tercapainya terobosan diplomatik dalam waktu dekat di Timur Tengah. Indeks dolar Bloomberg menguat, sementara harga emas anjlok hampir 4% menjadi sekitar US$4.120 per ons pada sesi perdagangan sebelumnya.





























