Harga Minyak Naik di Tengah Ketidakpastian Pembukaan Selat Hormuz
News
28 September 2026 07:20

Kanoko Matsuyama - Bloomberg News
Bloomberg, Harga minyak naik setelah Iran tetap mempertahankan proposal pembukaan kembali Selat Hormuz selama tujuh hari yang telah ditolak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Sikap tersebut berpotensi semakin menunda pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu.
Minyak mentah Brent naik menembus US$106 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak menuju US$94 per barel. Dalam wawancara dengan Axios pada Minggu (27/9), Trump mengatakan persyaratan yang diajukan Teheran merupakan sesuatu yang mungkin saja disetujui Washington sekitar setahun lalu. Ia menilai Iran telah bertindak terlalu jauh dalam mengajukan tuntutannya. Trump juga memperkirakan perundingan dengan Iran akan kembali dilanjutkan pekan ini, menurut laporan Axios.
Harga minyak berfluktuasi sepanjang pekan lalu di tengah sinyal diplomatik yang beragam, pemulihan aliran pasokan dari Timur Tengah, serta ketidakpastian mengenai langkah AS untuk menekan harga solar yang telah mencapai rekor tertinggi. Trump mengatakan Washington tengah mempertimbangkan langkah tersebut dengan "sangat serius". Harga minyak Brent telah naik lebih dari 70% sepanjang tahun ini dan berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan bulanan selama tiga bulan berturut-turut. Kenaikan tersebut terjadi ketika konflik AS-Iran memasuki bulan kedelapan dan semakin menambah tekanan inflasi.
Pelaku pasar akan terus memantau arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, yang sebelum konflik dimulai menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Trump mengatakan "jumlah minyak yang mencapai rekor" telah dikeluarkan dari selat tersebut pada Sabtu malam. Sementara itu, kantor berita Fars melaporkan bahwa pasukan Iran menargetkan kapal-kapal yang menggunakan jalur tidak resmi untuk melintasi perairan tersebut.





























