Isu Selat Hormuz Bayangi Pergerakan Bursa Saham Asia
News
28 September 2026 08:58

Anand Krishnamoorthy - Bloomberg News
Bloomberg, Obligasi kembali melemah setelah sempat menguat dalam waktu singkat. Ketegangan di Timur Tengah meningkat menyusul penolakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Harga minyak naik, sementara saham-saham Asia melemah.
Obligasi pemerintah AS (Treasury) dengan tenor pendek memimpin pelemahan. Imbal hasil obligasi dua tahun yang sensitif terhadap perubahan suku bunga naik hingga lima basis poin menjadi 4,90%. Sementara itu, imbal hasil obligasi acuan 10 tahun naik empat basis poin setelah melonjak 16 basis poin pada pekan lalu. Obligasi pemerintah Jepang dan Australia juga melemah.
Harga minyak mentah Brent naik 1,3% menjadi sekitar US$105,70 per barel setelah Iran tetap mempertahankan proposal pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Harga emas turun karena kebuntuan terkait jalur pelayaran tersebut membuat biaya energi tetap tinggi dan mempertahankan tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi. Harga emas merosot 1,2% menjadi sekitar US$4.233 per ons.
Indeks saham Asia MSCI bergerak melemah tipis. Indeks Kospi Korea Selatan turun 1,4% setelah pasar kembali dibuka seusai libur, sedangkan saham-saham Jepang menguat. Kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,2% setelah sempat menguat pada Jumat.

























